Menyambut Paskah 2010 Paskah di Kuburan Yesus - Yerusalem Perjalanan Tour Israel “Passover in Garden Tomb" ” Bersama Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th 11D HOLYLAND PETRA – ISRAEL – JORDANIA DEP : 29 Mar DEC (ETIHAD) HARGA TOUR : 29 Mar - 6 April TWIN/TRIPLE SHARE : USD. 2250,- YQ & TAX : USD. 245,- BORDER & TIPPING : USD. 130,- TOTAL : USD. 2625,- ALL IN EXCLUDE : APT TAX JKT = Rp. 150.000,-, FISKAL ( Non NPWP ) Panorama Ministry : 021-2556 5000 Ext. 6038(Ruland), 6039 (Kiesin). Address : Panorama Building 6th floor, Jl.Tomang Raya No.63, Jakarta-Barat. Hub. 021 70363030, 08881001963, 0816 70 62 62 atau Priscilla 0813 1999 7803 Kesan Terbaik menikmati Perayaan Paskah di Golgota- Via Dolorosa bahkan kuburan Yesus Kristus yang kosong! Paskah tahun ini akan membuat saudara sangat diberkati. Raih Berkat Paskah Tanpa Batas
Sisi gelap manusia Cetak E-mail
Ditulis Oleh Administrator   
Minggu, 14 Oktober 2007
    Sering didapati  ambivalensi dalam  kehidupan anak-anak Tuhan, bahwa di  satu sisi mereka adalah orang-orang yang sudah diubahkan karakternya, namun di sisi lain masih nampak sifat-sifat buruk mereka. Hal itu bisa dilihat dari keseharian hidup mereka di mana saja. Tidak heran, banyak deretan nama-nama kristen memenuhi ruang tahanan atau penjara, dengan berbagai kasus. Yang sangat memprihatinkan lagi, didapati “Pendeta-pendeta” jatuh dalam tindakan asusila dan kriminal. Padahal mereka tergolong orang-orang yang memiliki kualitas rohani yang top, pemberita Injil kaliber dunia, memenuhi acara-acara di radio dan Televisi. Mereka telah memenangkan banyak jiwa dibawa untuk Kristus, memiliki pengagum yang banyak, pendiri dari berbagai yayasan-yayasan kristen terkenal. Melalui pelayanan mereka banyak orang dipenuhi Roh Kudus. Dan masih sederetan kecemerlangan pelayanan mereka.
      Kejatuhan hamba-hamba Tuhan dalam gereja, jelas-jelas menjadi sandungan terhadap jemaat Tuhan yang masih muda rohani. Ada yang mentah-mentah menyerapah, namun ada yang dengan prihatin bisa menerima. Pertanyaannya: “Mengapa pendeta sekelas mereka masih bisa jatuh dalam dosa?” Ini pertanyaan yang sulit dijawab, namun juga tidak. Bila kita mengerti benar “what the human is?” kita bisa menerima kenyataan tersebut. Mereka adalah manusia biasa yang masih ada di bumi yang gelap ini.
   
Wilayah-Wilayah Dalam Diri Manusia
   
   Bila dibedah, dalam diri manusia terdapat wilayah yang sangat luas, terdiri dari banyak kamar atau ruangan. Benar apa yang dikatakan seorang filsuf Yunani, bahwa di dalam diri manusia terdapat kamar-kamar, sekalipun bila bola bumi ini dimasukkan ke dalam diri manusia, tetap saja masih ada sudut kamar yang kosong. Namun bila Tuhan tinggal dalam diri manusia, maka kamar-kamar itu akan penuh.
   Wilayah dalam diri manusia tak pernah berstatus tanah tak bertuan. Ia ada yang empunya, ia tak terbebas dari tuan yang menguasainya. Siapa tuan yang menguasai? Hanya ada dua, yakni Tuhan atau Setan. Inilah medan perebutan antara Tuhan dan Iblis. Namun perlu dipahami bahwa ada perbedaan cara kerja Roh Kudus dengan Iblis. Hal itu sesuai dengan sifatnya masing-masing. Roh Kudus sekali-kali tidak pernah memaksa seseorang, Dia bekerja melalui prosedur-prosedur yang benar, sesuai dengan kesediaan hati seseorang untuk menerima menjadi Guru dan Penasehatnya. Yesus mengatakan: “Lihat Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suaraKu dan membukakan pintu, Aku akan masuk....” (Wah. 3:21). Roh Kudus selalu menghargai hak dan kebebasan  seseorang. Dia tidak pernah memaksa seseorang agar seseorang mau menerimaNya. Ia sabar dan setia, walau harus bertahun-tahun menunggu seseorang, sampai ia (orang tersebut) mempersilahkanNya masuk.
   Berbeda dengan Iblis, ia memanjat tembok seperti pencuri dan perampok (Yoh. 10:1). Wajarlah kalau ia sering merasuki tubuh orang (demons possesion), seperti yang sering ditulis dalam Alkitab. Kalau setan merasuki seseorang, ia akan melukai, membuat gila dan membunuh.   
   Alkitab mengatakan dalam 1 Kor. 6:19 “Atau tidak tahukan kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu”. (Ibr. Bayit El –KJV “temple of Holy Ghost”). Dalam PL. “Temple” menunjuk kepada Bait Allah di Yerusalem, yang terdiri dari berbagai ruang: halaman, ruang suci dan maha suci. Di ruang maha suci terdapat tabut Allah, sebagai lambang kehadiran Allah. Di Bait Allah itulah Allah hadir di tengah-tengah umatNya (Immanuel).
   Hanya orang percaya saja yang memperoleh predikat sebagai “Bait Roh Kudus” Sedang orang yang belum percaya, tidak dapat disebut Bait Allah. Sebab Roh Allah tidak tinggal dalam orang tersebut. Namun bila orang tersebut membuka hatinya menerima Tuhan Yesus, maka orang itu baru bisa disebut Bait Roh Kudus. Sebab ketika seseorang percaya kepada Yesus, pada saat kita dimeteraikan oleh Roh Kudus dan Ia diam di dalam kita (Ef.1:13)
   
Orang Kudus Bisa jatuh
   
   Orang percaya tidak identik dengan penuh Roh Kudus. Sebab penuh Roh Kudus merupakan sikap hidup yang sepenuhnya memberi seluas-luasnya wilayahnya untuk di garap sepenuhnya oleh Roh Kudus. Jadi Roh Kudus menjadi Master dari orang tersebut. Hal ini bukan berarti menyingkirkan Yesus, sebab Roh Kudus otomatis akan terus bersaksi tentang Yesus. Inilah yang dimaksud dengan tunduk pada otoritas Roh Kudus.
   Paulus mengajarkan: “....Tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh” (Ef. 5:18). KJV menulis “but be filled with the Spirit” (dipenuhi dengan Roh). Di sini seseorang pasif, sedang Roh aktif. Artinya orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang membiarkan dirinya diapakan saja oleh Roh Kudus, dia tidak mendekte Roh Kudus, tetapi didikte oleh Roh Kudus (controled by Spirit around the clock). Pasif bukan berarti pengosongan pikiran seperti meditasi, tetapi pikiran dan kehendak manusia berjalan seiring dengan kemauan Roh Kudus.
   Paulus juga mengatakan : “Janganlah padamkan Roh” (1 Tes. 5:19). Kata “padamkan” merujuk kepada kaki dian di Bait Allah zaman PL, di mana api pada kaki dian tidak boleh padam. (Im.24:2). Agar tidak padam perlu diberi minyak zaitun terus-menerus. Dalam KJV ditulis “Quench not the Spirit”. Jangan padamkan Roh yang sudah ada pada kita. Namun, mengapa orang percaya masih bisa jatuh dalam dosa?
    Sebenarnya tidaklah sulit untuk menjawab pertanyaan di atas. Sebab memang ada sisi-sisi gelap yang masih tertinggal dalam diri orang percaya. Alkitab memberi banyak referensi ayat terhadap orang-orang percaya yang jatuh dalam dosa dan tinggal dalam dosa. Harus dipisahkan pengertian antara jatuh dalam dosa, dengan tinggal dalam dosa. Tinggal dalam dosa disamakan dengan hidup dalam kubangan dosa. Peribahasa yang digunakan oleh Petrus “Anjing kembali lagi ke muntahnya dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya” (2 Petr. 2:22). Rasul Yudas menyebut mereka sebagai “orang-orang yang tidak hidup dalam Roh Kudus” (Yud. 1:19). Orang-orang seperti ini memang wilayah teritorialnya gelap gulita seluruhnya. Penerangan dari Roh Kudus sudah tidak nampak, sebab Roh Kudus dipadamkan. Sehingga mereka memiliki kecenderungan kepada dosa. Bahkan melakukan dosa, sudah menjadi life style (gaya hidup). Filosophy mereka adalah “Agar hidup tampak lebih hidup, lakukakanlah dosa”.
   Namun pertanyaannya di sini: “Mengapa orang kudus (pendeta) jatuh ke dalam dosa? Sedangkan ia bisa disebut sebagai orang-orang yang dekat dengan Tuhan, bergumul dengan Firman Tuhan setiap hari, hidup dalam doa dan puasa” Sebenarnya tidaklah terlalu berbeda antara kerohanian pendeta dengan jemaatnya. Yang membedakan adalah Si pendeta punya karunia khusus dari Tuhan dan dikembangkan, sedangkan jemaat tidak. Karunia khusus tidak ada hubungannya dengan karakter si pendeta. Sebab karakter berhubungan dengan buah Roh. Sedangkan orang yang karakternya buruk, bisa menerima karunia (kharisma). Simson merupakan contoh yang tepat. Dia penuh dengan kharisma. Kalau Roh Allah memenuhi dia, badannya menjadi kuat. Namun dia memiliki karakter yang buruk. Ia menolak mendengarkan nasehat ayahnya, dalam hal memperoleh jodoh. Ia sering berhubungan seks dengan para pelacur. Namun kharismanya tidak hilang dengan perbuatan dosanya. Alkitab mencatat: “Pada suatu kali, ketika Simson pergi ke Gaza, dilihatnya di sana seorang perempuan sundal, lalu menghampiri dia.....Tetapi Simson tidur di situ sampai tengah malam. Pada waktu tengah malam bangunlah ia, dipegangnya kedua daun pintu gerbang kota itu dan kedua tiang pintu, dicabutnyalah semuanya beserta palangnya, diletakkannya di atas kedua bahunya, lalu semuanya itu diangkatnya ke puncak gunung yang berhadapan Hebron.” (Hak. 16:1-3)
   Hamba Tuhan yang hidup dalam dosa, masih bisa dipakai oleh Tuhan untuk khotbah KKR dan memenangkan banyak jiwa. Ia masih bisa melakukan mujizat-mujizat sama seperti pendeta-pendeta lainnya. Sebab memang Tuhan tidak mencabut karunia yang dipercayakan kepadanya. Hal ini tidak mengherankan. Banyak jemaat Tuhan heran dengan pengalaman yang demikian. Namun berapa lama ia akan bertahan hidup seperti itu.
   Perlu dipahami bahwa dosa terjadi tidaklah secara mendadak, tetapi melalui fase-fase. Yakobus mengatakan: “Tetapi tiap-tiap orang (termasuk pendeta) dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa....” (Yak.1:14-15). Seorang hamba Tuhan yang jatuh dalam dosa, bukan berarti baru saat itu ia melakukan dosa tersebut, melainkan bisa jadi sudah 10 tahun yang lalu atau lebih ia sudah melakukan dosa tersebut. Cuma baru ter-expose (terbongkar) baru-baru ini oleh umum.
   Dosa selalu dihubungkan dengan kesempatan. Jadi keinginan, didukung oleh kesempatan yang ada, maka akan menghasilkan perbuatan dosa. Dr. L. Naek Tobing seorang pakar di bidang seks, mengatakan: “Bila ada dua orang berbeda jenis kelamin berada dalam sebuah kamar, mereka pasti akan melakukan hubungan seks. Kecuali mereka sepenuhnya dikuasai Roh Kudus”. Orang yang tidak melakukan dosa, tidaklah berarti tahan terhadap pencobaan. Ia belum saja memiliki kesempatan atau peluang yang sama dengan mereka yang jatuh dalam dosa.  
   Dari sudut pandang seorang seksolog, jelas bahwa tubuh lain jenis akan merangsang seks seseorang. Itu hal yang alami. Sebab tubuh memang sejak mulanya sudah bermuatan keinginan tersebut. Dan hal tersebut bersifat alami dan normal. Dari segi teologis, jelas bahwa tubuh atau daging (flesh) adalah wilayah di mana dosa berkuasa. Itulah yang disebut manusia lama atau tubuh dosa (Roma 6:6). Tubuh dosa, memendam “sifat dosa” tidak diangkat oleh Tuhan ketika seseorang percaya Yesus. Tubuh dosa punya kuasa atau pengaruh yang kuat. Itulah yang dimaksud Paulus, adanya “nafsu dosa” yang terus-menerus bekerja dalam anggota tubuh kita (Rom. 7:5). Ada yang mengidentikan dengan kebinatangan manusia, sebab memang yang ada dalam tubuh dosa hanyalah nafsu jahat.  
   Rick Godwin menulis: “Perjuangan Paulus yang terbesar bukanlah melawan iblis, melainkan melawan dirinya sendiri. Kedagingannya memberikan lebih banyak serangan, dari pada iblis. Ketika kita hidup berdasarkan kedagingan, kita bermitra dengan iblis, dan melawan rencana allah dalam hidup kita. Dosa tidak tinggal dalam tubuh jasmani kita, tetapi tinggal di tempat alamiah yang penuh dosa di dalam pribadi kita. Siapa yang dapat memerdekakan kita dari sifat dosa kita? Syukur kepada Allah, kita mempunyai jalan keluar  melalui salib Kristus.” (Rick Godwin – Menyingkap Praktek Sihir Dalam Gereja)
   
Kendaraan Iblis
   
   Ketika seseorang percaya Yesus, tubuh dosa tetap ada dan terus bekerja pada anggota-anggota tubuh tersebut. Akan terjadi tarik ulur dari pihak tubuh dosa dan Roh. Inilah medan perebutan antara kedua kubu. Jadi tidak secara otomatis tubuh dosa hilang. Orang kristen harus jujur menerima kenyataan ini. Inilah sisi-sisi gelap yang sering dimanfaatkan Iblis untuk perbuatan dosa. Iblis memanfaatkan tubuh dosa yang diwakili oleh panca indera untuk menyeret seseorang malakukan dosa. Perbuatan-perbuatan dosa dengan sendirinya akan membentuk sebuah “addiction” (ketagihan) yang mengarah pada kecenderungan. Sampai tahap ini seseorang telah terikat (terbelenggu) dan sulit untuk lepas. Namun masih tetap bisa berdoa minta pengampunan Tuhan. Berdoa di sini membuktikan bahwa Roh Kudus ada dan menginsafkan dosa (Yoh. 16:8). Namun tuntutan dosa sudah menjadi kebutuhan vital yang harus dipenuhi. Pada tahap ini seseorang sudah tidak disebut lagi jatuh dalam dosa, tetapi “tinggal dalam dosa”. Dimensi seperti ini tidak menutup kemungkinan bagi orang percaya, termasuk pendeta sekalipun. Iblis berhasil menjadikan orang tersebut sebagai kendaraannya dan menjadi budak dosa. Bila tidak dengan segenap kekuatan ia berbalik kepada Tuhan, dapat dipastikan dia berada dalam ambang menolak Kristus. Nampaknya sangat sulit bagi orang percaya yang mencapai tahapan seperti ini untuk kembali kepada Tuhan. Inilah sasaran iblis terhadap orang percaya, yakni menyeret orang percaya untuk jatuh dan tinggal dalam dosa, yang akhirnya sampai titik penolakan terhadap Kristus.
   Oleh sebab itu banyak orang-orang kristen yang jatuh bangun dalam dosa, berbalik menyalahkan Tuhan, mengapa Tuhan membiarkan dosa-dosa terjadi atasnya. Pada tahap ini hampir-hampir argumentasi dengan Tuhan tidak akan berguna. Bila ia seorang pendeta, ia akan akan memiliki peluang untuk menjadi dukun dan guru palsu. Roh kepahitan terhadap Tuhan menghinggapi orang tersebut. Rasul Yudas mengatakan: “Mereka inilah noda dalam perjamuan kasihmu, di mana mereka tidak malu-malu melahap dan hanya mementingkan dirinya sendiri, mereka bagaikan awan yang tak berair, yang berlalu ditiup angin; mereka bagaikan pohon-pohon yang dalam musim gugur tidak menghasilkan buah, pohon-pohon yang terbantun dengan akar-akarnya dan yang mati sama sekali. Mereka bagaikan ombak laut yang ganas, yang membuihkan keaiban mereka sendiri; mereka bagaikan bintang-bintang yang baginya telah tersedia tempat di dunia kekelaman untuk selama-lamanya”. (Yud.1:12-13). Mengerikan! Seorang yang sudah ditebus dan disucikan oleh darah Kristus bisa terjatuh sedemikian dalam. Orang yang demikian keadaannya lebih parah dari waktu sebelum ia bertobat.
       Tidak heran orang kristen sering memiliki dua rupa, waktu di gereja seperti malaikat, di luar gereja seperti setan. Oleh sebab itu, Alkitab mengajar kita agar selalu penuh dengan Roh Kudus dan jangan padamkan Roh; artinya beri seluas-luasnya Roh Kudus untuk memimpin dan menguasai hidup kita. Dengan demikian terang saja yang ada dalam diri kita, sedang kegelapan akan lenyap. Inilah peperangan rohani yang terus dikerjakan sepanjang hidup anak-anak Tuhan. Paulus mengingatkan kepada kita: “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. (Gal.5:16).
       Deretan daftar buruk orang kristen akan tetap mewarnai perjalanan gereja Tuhan, sampai Yesus datang ke dua kaliNya. Sebab Alkitab mengatakan bahwa pada hari-hari terakhir akan terjadi masa yang sukar yang akan menimpa anak-anak Tuhan (2 Tim. 3:1-3). Akan terjadi akumulasi dosa, banyak orang murtad meninggalkan Tuhan (1 Tes. 2:3). Untuk inilah diperlukan pertobatan yang radikal setiap hari dalam kehidupan orang-orang percaya. Jangan membiarkan dosa tinggal berlama-lama yang akhirnya merusak kehidupan orang percaya.
   
“Barang siapa berbuat jahat, biarlah ia berbuat jahat; barang siapa yang cemar, biarlah ia terus cemar; dan barang siapa yang benar, biarlah ia terus  berbuat kebenaran; barang siapa yang kudus,  biarlah ia terus menguduskan  dirinya”. (Wah. 22:11).


Penulis : Pdt. Agus Setiono  (Sumber Majalah SolaGracia)

Pemutakhiran Terakhir ( Sabtu, 27 Oktober 2007 )
 
Berikutnya >