Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini427
Kemarin1161
Minggu Ini6928
Bulan Ini33336
Total Pengunjung1351197

IP Kamu 3.233.217.91 Saturday, 29 February 2020

Guests : 13 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
(MULAI APRIL 2019)
 
Gembala Sidang :
 
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

 

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

PRAHARA DI TOLIKARA PAPUA

Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th 

 

Banyak hal aneh di negeri ini, berpuluh-puluh kali gereja di bakar massa, para hamba Tuhan teraniaya, gereja di tutup oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab, negeri ini seolah-olah tutup mata. Bahkan keputusan akhir dari pengadilan negeri yang menyatakan bahwa  gereja mendapat ijin untuk beribadah masih bisa dianulir oleh walikota setempat seolah-olah penguasa daerah lebih tinggi dari hukum itu sendiri celakanya Presidennya waktu itu tidak mengambil reaksi sedikitpun. Ini memang negeri yang carut marut dalam banyak hal bukan tidak ada orang pintar dan genius, sudah cukup banyak bertebaran dalam setiap sektor pemerintahan bahkan dikatakan melimpah di bumi Indonesia ini namun mentalitas yang "bottemless" dibawah standar dan "defisit spirit" membuat negeri ini bukan lagi something rong but everything is rotten ini berarti bukan ada sesuatu yang salah melainkan segala sesuatunya menjadi busuk karena kelakuan orang-orang yang jauh daripada revolusi mental yang di canangkan Sang Presiden negeri ini.

Berita yang menyangkut SARA masih menjadi kuliner yang sedap dinikmati oleh para rohaniawan yang getol terhadap agamanya, merasa lebih tinggi dari agama lain maka mereka haus darah orang lain dan lapar membantai agama yang bukan dianutnya. Orang-orang ini sok jadi pahlawan seolah-olah punya nilai plus bila bisa membela agama Alllah padahal Allah tidak perlu dibela. Ia terlalu kuat untuk membalas dendamnya sendiri. ALLah itu pendendam (Nahum 1:2) Ia akan segera membalas para lawan-lawannya, apakah Ia butuh kita ? tidak sama sekali!

Kisah arogansi gereja GIDI yang membuat heboh negeri ini perlu dicermati dengan nalar yang jernih tanpa BAPER (bawa perasaan) maupun CAPER (cari perhatian) juga tidak boleh sok kepo seolah-olah kita adalah agen CIA yang bisa mendeteksi bak film-film detektif. Semula gereja GIDI memiliki program KKR Pemuda dan seminar katanya tingkat Internasional, celakanya waktunya berbarengan dengan sholat ied, dari sini saja sudah ketahuan jelas bahwa Panitia tidak memiliki hikmat sama sekali dengan membenturkan acaranya pada jam yang sama dengan hajatan besar setahun sekali agama lain. Saya tidak yakin bahwa Panitia sedang dipimpin oleh Roh Kudus dengan menempatkan tanggal dan jam yang sama. Roh Kudus adalah tertib, jangan berkata dipimpin Roh Kudus bila hasilnya mendatangkan Prahara, derita dan kematian orang yang kita sayangi. Tidak perlu menyalahkan pihak aparat yang menembak atau mereka yang melanggar aturan menggunakan Loudspeaker namun yang pasti skenario acara ini bukan area yang dipimpin dari Roh Kudus yang menyengsarakan jemaat demi program yang harus di jalankan, rencana Tuhan tidak pernah mendatangkan kecelakaan, malapetaka titik tanpa kompromi, tidak perlu berdalih!

Memang harus diakui kelemahan dari GIDI ( Gereja Injili Di Indonesia) mengadakan seminar dan KKR level Internasional bertepatan dengan hari Raya besar umat Muslim yakni lebaran. Tidakkah ada waktu lain, atau bergeser dengan jamnya? Alkitab mencatat barang siapa kurang hikmat hendaklah meminta kepada Allah (Yakob 1:5). Kita tidak boleh egois di negeri Pancasila ini sebab kalau kita tahu orang lain memang merayakan satu tahun sekali kenapa harus dibentrokkan waktunya? dari semula saja gereja kurang hikmat dalam membuat acara sehingga timbul perselisihan. Gereja GIDI tidak sadar bahwa kekristenan bukan hanya mereka yang ada di PAPUA melainkan diseluruh penjuru negeri ini yang masih dikatakan minoritas sekarang, ingat dunia ini mayoritas pengikut Kristus! Apakah tidak ada satupun petinggi GIDI yang punya hikmat melihat dengan skala Nasional, padahal yang diadakan kelas Internasional berpikir nasional saja tidak, bagaimana bisa melakukannya kelas dunia? Mereka tidak sadar masih ada gereja di Aceh yang mayoritas muslim atau di daerah-daerah yang menekankan syariat Islam.

Orang harus memiliki hikmat untuk mengadakan acara sehingga tidak berdampak merugikan bagi kaum Nasrani. Namun menurut sahabat-sahabat saya di Papua gereja ini paling keras bila denominasi lain masuk Papua seolah-olah Papua milik GIDI bukan milik Tuhan mereka tidak segan-segan menutup gereja yang tidak direstui mereka. Mosok sih? kalau ini benar berarti tindakan untuk agama lain jauh lebih keras  maka Aparat perlu mengusut tuntas. Peristiwa ini memang Tuhan ijinkan merupakan titik kolminasi arogansi diri yang sudah menaun yang perlu disingkapkan oleh Tuhan  di atas sotoh negeri ini sehingga para petinggi GIDI supaya bertobat.Memang bagi muslim yang lebay.com seringkali melihat sebuah masalah tidak focus bahkan cenderung tidak proposional, yang kecil jadi besar dan yang besar meledak. Mereka miss komunikasi dalam kasus di Tolikara PAPUA ini. mereka merasa disakiti, diperlakukan tidak adil, merasa mayoritas yang akhirnya ingi memobilisasi pasukannya untuk balas dendam. Coba hal seperti ini kedengaran di era Suharto, sudah diciduk habis mereka, dimana pemerintah sekarang? ancaman demi ancaman seolah-olah bebas dengan era reformasi yang keblinger. Bagi para pengikut agama yang sok membela Tuhan merasa seolah-olah kaum mayoritas terdegradasi dengan tidak boleh solad Ied. Padahal tidak demikian halnya, tidak ada satupun yang teraniaya dan yang mati saat beribadah. Negeri ini masih banyak dihuni orang cupet berpikir, konyol dalam bertindak serta ceroboh dalam beragama. Gampang sekali dibakar emosinya kalau agamanya tersentuh ketidakadilan maka mereka terpanggil untuk membela seolah-olah Allah terlalu lemah untuk itu perlu dibela. 

Ketika gereja akan tetap melaksanakan program KKR dan Seminar yang berbenturan dengan hari lebaran maka Ia mengeluarkan surat bernomor 90/SP?GIDI-WT/VII/2015 yang ditandatangani langsung oleh ketua Badan Pekerja gereja GIDI wilayah Tolikara, Pendeta Neyus dan sekretaris,Martin Jingga yang isinya tak mengijinkan umat muslim merayakan lebaran, sholat ied karena bersamaan dengan KKR dan Seminar tingkat Internasional (gatra.com). Namun surat ini diralat tetap mengijinkan dengan catatan tidak menggunakan loudspeaker karena sesuai aturan yang ada. Namun sayang ralat yang kedua ini sosialisasi dilapangan tidak seperti yang diharapkan. Memang juga harus diakui saudara muslim jika menggunakan speaker sering kali memekakan telinga. Tidak peduli agama apapun dipaksa mendengar kumandang doa mereka. Bukan tidak boleh demikian,  pemerintah juga menganjurkan untuk tidak terlalu keras, dengan hikmat juga, sebab Allah yang berkuasa sanggup mendengar tanpa bisikan bahkan niat hati kita saja Dia juga mendengar, mengapa harus memaksakan dengan double voice? di rumah saya saja speaker mereka tidak tanggung-tanggung 4 biji berjejer menjulang ke angkasa dari berbagai macam sudut mendengar dari delapan penjuru angin bak film silat saja.  

Bagaimana kalau gereja setiap minggu sekali kotbahnya menggunakan Toa di awan-awan? Saya pernah berkotbah di gereja Palestina, dimana gereja itu menyampaikan kotbah dengan Toa di atas gerejanya dan herannya umat muslim disana menerima sebab mereka mengakui bahwa setiap hari mereka memperdengarkan doanya melalui loudspeker. Maka gereja mendapat kesempatan kotbah menggunakan speaker diatas gereja hanya seminggu sekali sebab mereka selalu memperdengarkan azannya setiap hari. Itu baru adil itulah model agama yang benar, kerukunan agama di Palestina luar biasa, Indonesia harus belajar banyak soal toleransi beragama dari negara-negara Arab khusunya Palestina. Lihat saja DUBAI, Qatar dll hampir tidak pernah ada perselisihan agama disana! karena terkadang sebagian muslim Indonesia yang beriblat ke arab sebagian mengarabkan diri lebih dari pada Arabnya sendiri, walau mereka tidak pernah kesana. 

Menurut sumber yang di percaya Presiden GIDI  Dorman juga menampik dugaan pembakaran musala secara sengaja oleh GIDI. Dirinya menjelaskan bahwa kemarin sekitar pukul 08.30 WIT, beberapa pemuda gereja memang mendatangi umat Islam yang akan melangsungkan Salat Id dengan maksud memberitahukan peraturan daerah Kabupaten Tolikara serta surat resmi gereja.

Peraturan tersebut menyatakan bahwa ibadah Salat Id tetap boleh dilaksanakan tetapi tanpa menggunakan pengeras suara karena dinilai dapat mengganggu jalannya seminar internasional yang lokasinya sekitar 250 meter dari lokasi ibadah. "Para pemuda juga ingin menanyakan surat resmi Gereja yang pernah dikirimkan kepada Kepala Kepolisian (Kapolres) Tolikara, Ajun Komisaris Besar Suroso, sejak dua minggu sebelum kegiatan seminar maupun Idul Fitri dimulai," katanya.

Surat resmi tersebut berbunyi, "Mengingat akan diselenggarakannya Seminar dan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Injili Pemuda Tingkat Pusat bertaraf Nasional/Internasional pada tanggal 15-20 Juli 2015, maka diminta kepada pihak muslim agar tidak melakukan kegiatan peribadatan di lapangan terbuka; tidak menggunakan pengeras suara dan ibadahnya cukup dilakukan di dalam musala atau ruangan tertutup.”

Dua minggu sebelum pelaksanaan kegiatan ibadah, Dorman mengatakan telah mendapat konfirmasi langsung dari kapolres Tolikara tentang tanggapan positif surat gereja yang dikirimkan kepadanya. Surat tersebut, kata Dorman, akan ditindaklanjuti pihak kepolisian dengan memberitahukan kepada ratusan umat Islam untuk melangsungkan ibadah di dalam ruang musala dan tidak menggunakan pengeras suara.

Namun, Dorman menilai sosialisasi yang dijanjikan ternyata sangat minim dan tidak sampai ke warga Islam yang hendak menjalankan ibadah. Para pemuda GIDI kemudian datang untuk menyampaikan aturan tersebut. "Saat hendak menyampaikan aspirasi itu di depan umum, secara tertib tiba-tiba seorang pemuda tertembak timah panas tanpa ada perlawanan. Pihak aparat juga melakukan penembakan bertubi-tubi dan mengakibatkan 12 orang pemuda terkena peluru," kata Dorman
Selanjutnya, Dorman menjelaskan masyarakat tidak terima dengan penembakan tersebut dan langsung melakukan pembakaran terhadap beberapa kios yang merembet hingga membakar musala dan rumah warga. (jawaban.com)

Jadi sebenarnya tidak pernah ada larangan atau penyerangan kata sumber yang berbeda, namun pihak keamanan harusnya bertanggung jawab terhadap surat yang sudah disampaikan namun realitasnya ceroboh tidak sampai kepada orang-orang dilapangan. Bila mungkin ada ibadah Natal di Aceh dan kebetulan umat Muslim juga ada acara maka setidaknya yang Natal yang harus mengalah karena mayoritas di sana adalah muslim demikian juga di Irian yang mayoritas Kristen maka setidaknya umat muslim juga memahami itulah toleransi.

Aparat keamanan harus bertanggung jawab untuk kematian warga gereja dibawah umur, mereka bukan menyerang hanya ingin menanyakan akan surat tersebut. Polisi kurang cermat dalam menyikapi situasi akibatnya bagi mereka yang difisit rohaninya ingin membalas dendam dengan penyerangan ke gereja, mereka mau berjihat ke Papua. Negeri ini sudah carut marut oleh ulah para Koruptor, Penguasa egois yang mementingan diri sendiri di masa silam. Belum ditambah para ormas-ormas agama yang merasa punya pasukan, polisi dianggap sebelah mata yang seolah-olah mampu menyelesaikan masalah di negeri ini. 

Bila negeri ini tidak bertobat maka Tuhan juga akan menjungkirbalikkan seperti Sodom dan Gomora, untuk itu menjelang kedatanganNya mari kita berhenti berpikir untuk jahat sebagai agama apapun yang tidak dilandasi oleh kasih yang pasti bukan berasal dari Tuhan sebab manusia adalah makluk ciptaan Tuhan, jika kita tidak bisa melihat Tuhan di dalam diri orang lain jangan pernah membuka buku kitab suci apapun maka disana kita tidak akan menemukan Tuhan. Untuk itu perlakukan manusia sebagaimana Tuhan memperlakukan dirimu. Bila engkau merasa di kasihi maka kasihilah sesamamu manusia, jika engkau tidak merasa dikasihi maka perlu dipertanyakan kembali Tuhan model apakah yang engkau percayai. Jika demikian kita tidak akan melihat kekelaman yang diakibatkan oleh SARA, syukur Puji Tuhan semua sudah terkendali dengan aman. Cara penanganan kasus ini cukup cepat tanggap, Pimpinan Kapolri sudah terbang sendiri dan melihat secara langsung, yang lain harus tutup mulut sebab semakin banyak ngomong dan komentar maka semakin ribet. Mas Media jangan memberitahi harusnya memberitahu yang benar sehingga tidak tambah rusak negeri ini. Mari kita hidup damai dan aman sebab jika tidak demikian Sodom Gomora akan berganti dengan nama dengan Indonesia. This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.