Print 

ROMANTISNYA AJAL

Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th

Hidup dan mati adalah seiring sejalan bagaikan sepatu yang dua-duanya berdampingan. Satu untuk hidup di dunia ini sementara yang lain untuk hidup di ekosistem alam kekekalan. Semua orang akan mati dengan  waktu yang tidak pernah tahu dan tidak pernah diinformasikan terlebih dahulu sebab kematian tidak pernah bilang-bilang. Anak muda bisa mati orang tua wajib mati kakek nenek harus mati itulah realitas yang tidak bisa disangkal sebuah kepastian yang akan terjadi kecuali peristiwapengangkatan waktu Yesus datang ke dua kalinya datang menjemput.

 Namun kita harus sadar selagi kita hidup kita belum mati, jika nanti sudah mati itu baru dikatakan mati. Orang yang berani hidup harus berani mati karena orangyang   tidak berani mati jangan pernah hidup. Bila diibaratkan tanda baca kematian bukanlah sebuah titik melainkan sebuah tanda koma, yang berarti masih ada kelanjutnya, sebab memang kematian bukanlah akhir dari kehidupan melainkan awal kehidupan kekal, entah sorga kekal atau binasa kekal. Sebagian menjadikan kematian itu sebagi tanda seru yang memiliki arti sebuah peringatan.

Bagi orang percaya kematian bukanlah sebuah momok yang menakutkan bukan juga sebuah tragedy melainkan sebuah resepsi perkawinan dengan Anak Domba telah tiba.Kematian bukanlah sebuah momok yang menakutkan bagaikan musibah melainkan sebuah anugerah.Karena yang penting bukan yang mengantar melainkan yang menjemput. Kematian orang Kristen adalah sebuah keuntungan karena Kristuslah yang menjemput untuk memperoleh mahkota. Simaklah dalam renungan Firman Tuhan

 

 

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn