Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini324
Kemarin907
Minggu Ini3903
Bulan Ini13801
Total Pengunjung895714

IP Kamu 54.84.236.168 Friday, 14 December 2018

Guests : 21 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
(MULAI MEI  2018)
 
Hotel SANTIKA KELAPA GADING
 MAHAKA SQUARE BLOK HF 3 JL KELAPA NIAS RT 06 RW 06 KELAPA GADING BARAT
JAKARTA UTARA - DKI JAKARTA 
Gembala Sidang :
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

 

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

INJIL YANG TERKUTUK

Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th

 

Munculnya ajaran baru dengan klaim kebenaran yang up to date dan dan mampu meng upgrade kebenaran yang sudah ada justru membawa malapetaka yang besar bagi suatu umat. Bila kebenaran ini diverifikasi dan disertifikasi maka akan didapati cacat hukum dan tidak layak dikonsumsi oleh umat Allah karena mengandung sianida. Mereka yang menyantapnya akan mengalami degradasi kesehatan rohani secara perlahan-lahan, membusukkan organ-organ di dalamnya, dan cepat atau lambat akan membawa kematian dan kebinasaan kekal. Kebenaran ini diformat hampir mirip dengan Injil, jika diukur validitas[1] dan reliabilitasnya[2] tidak perlu diragukan lagi, akurat dan sangat tepat secara kasat mata manusia namun tidak dalam kaca mata Allah.

Kebenaran yang menyesatkan yang dibungkus dalam hidangan racun yang bersalutkan madu dengan segala kenikmatannya akan membawa penyakit dan wabah virus yang tidak ditemukan obatnya. Setiap orang yang menikmati Injil palsu ini, bagaikan menjilat madu di ujung silet!  Injil Palsu ini muncul di awal-awal pemberitaan Rasul Kristus khususnya jemaat galatia dan tidak berhenti bisa terus berlangsung sampai akhir zaman. Mereka datang bukan saja meragukan kerasulan Paulus dan ajarannya tetapi menyeret orang untuk mempercayai dan melakukan ajaran palsu yang dimodifikasi seolah-olah menjadi kabar kesukaan tetapi sesungguhnya kabar kedukaan. Dimana umat di ajak kembali menjadi terikat dan menjauhi kasih karunia Allah. Kebenaran palsu itu mengerikan dan menjijikkan karena identik dengan kutukan!

Karena tidak akan pernah ada orang yang menyantap  Injil diluar pemberitaan Paulus akan menjadi baik-baik dan sehat. Mereka sedang menyantap sajian, sumpah serapah, laknat dan malapetaka sehingga akan menuju jurang maut. Olahan kebenaran dari guru-guru palsu yang merasuk jemaat di Galatia masih berlaku di dunia modern oleh para tokoh agama yang kebliger.[3]

Bila dianalogikan para tokoh agama sesat itu membebaskan umat keluar dari kandang singa tapi menyeretnya masuk ke lobang buaya tentu akan dicabik-cabik kedalam kebinasaan.  Injil yang berbeda adalah kebenaran yang mengikat dan tidak membawa sebuah kepastian keselamatan melainkan focus yang duniawi dengan berbagai larangan peraturan, halal dan haram dan segudang hukuman yang menantinya.  Ada pepatah “tell me what you eat and I tell you what you are” eksistensi seseorang itu dapat dilihat dan diidentikkan apa yang ia santap setiap harinya. Mengingat bahayanya Injil Terkutuk ini maka  Paulus harus tegas dalam melindungi jemaat Tuhan dengan sebuah maklumat bahwa :

 

Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga

yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda

dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu,

terkutuklah  dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu,

sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang

yang memberitakan kepadamu suatu injil,

yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, 

terkutuklah dia.[4]

 

Paulus sedang berbicara dua hal yakni adanya makluk alam jasmani maupun alam rohani yakni  manusia dan malaikat yang membawa Injil yang lain yakni kebenaran yang bertolak belakang dengan

berbeda dengan essensi injil sejati.

 

"Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia,

yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu,

dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil."[5]

 

Mengapa menjadi Injil yang merupakan kebanggaan dan kekuatan menjadi terkutuk karena dibawa oleh orang atau malaikat yang terkutuk. Biasanya orang yang rusak membawa barang yang rusak, jika dianalogikan seorang yang hidup berkenan kepada Allah tidak mungkin membawa barang haram seperti narkoba atau membawa virus yang mematikan banyak orang. Hal-hal yang haram dan kotor akan dibawa oleh orang-orang yang memang kotor dan najis. Orang yang berpenyakit akan selalu membawa penyakit kemana ia pergi demikian juga persepsi orang-orang yang jahat akan membawa kejahatan. Sebenarnya maksud Paulus bukanlah Injilnya yang terkutuk melainkan orang yang membawanya. Namun harus dipahami jika orang atau malaikat yang terkutuk tidak mungkin membawa yang bernuansa sorga melainkan sebaliknya atmosfer neraka. Untuk itulah judul artikel ini adalah Injil terkutuk  karena orang terkutuk akan membawa kutukan.

Kebenaran yang seolah-olah Injil tapi menyesatkan yang akan membawa orang dalam menjauhkan dari kasih karunia dan menyeret kembali kepada ajaran Taurat.  Taurat adalah cermin bagaimana orang berdosa dan serentetan hukuman yang menyertainya. Melalui Taurat orang mengenal dosa dan dalam bayang-bayang dosa. Untuk tidak berdosa maka harus ada usaha personal untuk berusaha keras melakukan hukum-hukum Allah dari waktu dan cara ibadah dengan seribu satu aturan. Makanan halal dan haram segudang  dan larangan-larangan, takdir yang mengerikan  sekaligus  malapetaka  yang menyeretnya kedalam kebinasaan. 

Untuk mencapai sorga orang kembali melakukan Taurat dengan ritual agama yang sulit, dan aturan-aturan cara berpakaian dan masih banyak lagi yang mustahil bisa dilakukan manusia biasa. Ajaran ini akan memfocuskan yang batiniah menjadi lahiriah. Untuk itu kritik pedas disampaikan oleh Yesus kepada cara hidup orang Farisi dan ahli Taurat dalam ibadah.

 

Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: "Hati-hatilah terhadap

ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan

memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar,

yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat

dan di tempat terhormat dalam perjamuan,

yang menelan rumah janda-janda,

sedang mereka mengelabui mata orang

dengan doa yang panjang-panjang.

Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat."[6]

 

Orang Farisi dan Ahli Taurat ingin menunjukkan dirinya orang yang rohani melalui setiap jengkal kehidupan mereka dari cara berpakaian, makan, soal cuci tangan, halal dan haram diatur dengan rapi. Semua dilakukan karena mereka berada dalam bayang-bayang dosa sehingga diatur sedemikian rupa supaya tidak terpeleset.  Mereka kembali mengingatkan untuk hidup yang benar orang harus kembali ke Taurat. Ini berarti bahwa kebenaran yang bernuansa ke Yahudian yang plus-plus, tidak akan pernah mendatangkan keselamatan sebaliknya sebagai  kutukan. Bisa dibayangkan jika umat Allah bila tidak diproteksi dengan Injil sejati maka mereka akan menerima sajian kutukan setiap hari.

Bila orang percaya Kristus maka ia tidak sedang diperhadapkan dengan hukum Taurat, Yesus sendiri menghapus semua yang bernuansa hukum-hukum yang mengingat yakni halal dan haram. Setiap orang yang tinggal dalam Kristus maka ia diberi status baru, sebagai anak Allah, umat pemenang, bangsa yang kudus dan umat kepunyaan Allah. Status yang banyak dan perlengkapan sebagai orang-orang yang diperkenan oleh Allah untuk melakukan pekerjaan yang baik. Belum lagi Roh Kudus dikirimkan untuk memberi kemampuan melakukan kebenaran sejati. Anak Tuhan mereka yang sudah tinggal dalam Yesus tidak ada lagi aturan-aturan yang aneh-aneh karena Kristus telah menebus segala sesuatunya dan hasil kinerjaNya di atas salib yang melucuti seluruh ikatan-ikatan dosa telah diberikan di dalam umat yang percaya.

Mengapa Injil di luar Kristus mendatangkan kutuk? Karena bukan kebenaran tetapi lebih tepatnya kesesatan. Injil adalah kebenaran yang membebaskan dan memberi jaminan keselamatan. Kebenaran di luar Yesus menjadi liar menyesatkan dan membinasakan sebab essensinya hilang, yakni menjauh dari kasih karunia Allah. Jadi model kebenaran seperti apakah yang disampaikan di luar Kristus? Kebenaran itu pasti berbau Taurat dengan segudang larangan dan usaha manusia untuk mencapai sorga.

Injil yang terkutuk berbicara soal kebenaran yang bercacat cela yang tidak akan mampu dilakukan oleh manusia. Karena seluruh perintah harus dilakukan seratus persen jika satu saja gagal maka mampu membatalkan yang sudah 99 perintah yang sudah dikerjakan . Injil palsu adalah Injil yang menuntut kesempurnaan tanpa cacat cela sedikitpun dengan usahanya sendiri. Namun berbeda dengan Injil sejati seluruh ketidakmampuan manusia dalam menjalankan kebenaran sudah dilakukan oleh Yesus Kristus dan jubah kemenangan itu dikenakan kepada orang percaya dengan

Sudah dapat dipastikan bahwa kebenaran di luar kristus adakah disebut sebuah kebenaran? Siapakah kebenaran yang sesungguhnya? Agama mengatakan tunjukkanlah kebenaran seperti pertanyaan Pilatus kepada Yesus : Apakah kebenaran itu? Namun sesudah mengatakan demikian Pilatus sendiri menjawab kepada khalayak orang Yahudi bahwa "Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada-Nya.[7]Kebenaran menurut kamus bahaya Indonesia adalah keadaan (hal dan sebagainya) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya contoh: 'kita harus berani mempertahankan kebenaran ia masih menyangsikan kebenaran berita itu' 2) sesuatu yang sungguh-sungguh (benar-benar) ada.

 

Alkitab tanpa ragu mengklaim diri sebagai kebenaran. Kata kebenaran dalam bahasa Ibrani: emet dan Yunani: aletheia. Kedua kata ini berarti “kesetiaan”, dan “kesesuaian terhadap fakta”. Kata “emet” dan “aletheia” menyatakan “apa yang sesuai dengan kenyataan”. Kata Emet dan aletheia bisa juga memiliki konotasi “hal yang autentik, bisa diandalkan, atau semata-mata benar”. Kata emet berasal dari kata kerja  “aman” yang secara harafiah berarti “mendukung atau memantapkan” dan digambarkan sebagai lengan seorang ayah yang kuat yang sedang menggendong bayinya. Jadi kebenaran tidak akan bisa muncul dari diri kita dengan sendirinya, melainkan kemampuan melakukan kebenaran itu berasal dari Bapa Sorgawi yang menolong dan mendukung kita.

 

Dalam pikiran orang Yahudi, kebenaran lebih difokuskan pada dinamika, perubahan, dan gagasan bahwa kebenaran memuat juga pembentukan karakter orang – dan pemulihan atas dunia. Jadi – khususnya dalam relasi dengan Allah – hakekat kebenaran menjadi berakar pada saat-saat keputusan diambil dalam kehidupan seseorang. Kebenaran tentang Allah adalah, Allah itu benar kepada firmanNya dan di dalam tindakanNya dan sikapNya; Allah adalah yang benar dan setia.

            Ketika Yesus sendiri mengklaim bahwa dirinya adalah kebenaran maka Ia layak dan punya kompetensi terhadap kebenaran yang diucapkan. Jika diverifikasi pribadi Yesus Kristus maka Ia sangat pantas dan layak menyandang gelar “kebenaran” sebab memang di dalam dirinya tidak pernah melakukan hal-hal yang bercaccat cela. Pilatus seorang arogan, ambisius dan orang yang paling jahat dizamannya mengakui dari mulutnya bahwa Ia tidak mendapati kesalahan sedikitpun di dalam diri Yesus Kristus dari Nazaret. Dengan lain kata Pontius Pilatus menjawab pertanyaan itu sendiri, apakah kebenaran? Pilatus sedang berhadapan dengan pribadi yang identik dengan kebenaran.  

            Yesus Kristus sebagai firman yang hidup maka Ia sendiri mengatakan Firman itulah kebenaran.[8]Yesus sangat konsisten dengan apa yang Ia ucapkan karena menjadi standar kebenaran sampai kapanpun. Ketika Yesus sendiri berkata jangan berzinah maka sepanjang hayatNya Ia tidak pernah sekalipun jatuh dalam dosa perzinahan. Jika Ia berkata jangan membunuh sampai matinya di kayu salib tidak pernah diceritakan Yesus membunuh satu orangpun bahkan dalam hidupnya membangkitkan beberapa orang mati. Berbeda dengan para nabi dan rasul yang sering kali mengatakan kebenaran tetapi tidak mampu melakukannya.

 

Jadi, bagaimanakah engkau yang mengajar orang lain,

tidakkah engkau mengajar dirimu sendiri?

Engkau yang mengajar: "Jangan mencuri,"

mengapa engkau sendiri mencuri?

Engkau yang berkata: "Jangan berzinah,"

mengapa engkau sendiri berzinah?

Engkau yang jijik akan segala berhala,

mengapa engkau sendiri merampok rumah berhala?[9]

 

 

 

Antara perkataan dan perbuatan yang pernah Yesus ucapkan sepenuhnya dilakukan tidak seincipun mengalami degradasi. Ketika Ia mengajarkan pengampunan maka Ia membuktikan dirinya bisa mengampuni orang lain. Dalam keadaan yang paling menderita karena ulah tangan-tangan jahat orang-orang Romawi, seharusnya Yesus Kristus menunjukkan kuasaNya dan mampu mengubah mereka yang menganiaya dirinya di sulap menjadi binatang apapun. Yesus memiliki kemampuan tersebut namun tidak melakukannya malah justru ia berdoa mengampunan mereka[10]. Ajaran dan perbuatan yang identik menjadikan pribadi Yesus adalah kebenaran sejati.

 

Pengkhianatan Petrus yang sekelas dengan Yudas menyangkal sampai tiga kali tidak membuat Yesus terluka. Setelah kebangkitanNya Ia menghampiri Petrus dan tidak mengingatkan lagi bahwa Ia sudah memperingatkan tiga kali akan mengkhianati gurunya mengapa Petrus tidak mengindahkannya? Yesus Kristus yang sudah bangkit dari maut, penuh kuasa dan kemuliaan, secara logika bisa balas dendam kepada orang-orang yang memperlakukannya tidak adil. Namun tidak demikian Ia dengan kasih menghampiri Petrus dengan pertanyaan apakah engkau mengasihi Aku? Dengan demikian penyangkalan Petrus berbuahkan pengakuan sekaligus menerima pengampunan dan tuga menggembalakan domba-domba Tuhan.[11]Jika satu kali saja Yesus melakukan perzinahan atau pembunuhan dan serangkaian dosa baik yang disengaja maupun tidak maka Ia tidak layak diikuti sebagai teladan apalagi menjadi junjungan sebagai nabi atau Tuhan! Jika hal itu dilakukannya sebagai manusia biasa maka iapun tidak layak sebab tidak ada bedanya antara pengikut dan yang diikuti. Jika yang diikuti melakukan dosa maka para pengikutnyapun akan selalu hidup dalam dosa setiap saat. Namun berbeda dalam diri Yesus Kristus dari Nazaret. Dalam area kebenaran tidak mungkin didapati atmosfer dosa, jika demikian rusaklah sorga bila ada dosa disana.

Kebenaran bukan saja layak disematkan di dalam diri Yesus Kristus melainkan sebuah realitas bahwa diriNya sendiri  adalah kebenaran sejati.  Yesus Kristus selama tiga setengah tahun mengajarkan diriNya sendiri dan dampak dan pengaruhnya melebihi siapapun dunia ini. Ia berkata : “dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu ." Kemerdekaan model apakah yang Yesus berikan? Kemerdekaan dari hukum Taurat yang mengikat semua orang. Paulus mengatakan dengan jelas, Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh  dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.[12]

Mengapakah banyak kebenaran yang tidak membebaskan manusia melainkan mengingat? Lebih lanjut Paulus mengatakan : “Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematika, tetapi Roh menghidupkan.[13]Yesus sendiri berkata : “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.[14]Setelah perkataan ini maka Petrus memberikan kepastian kebenaran di dalam diri Yesus : “"Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.[15]

Kebenaran yang sejati tidak sekedar berkata boleh atau tidak, haram atau halal. Jika hanya perkataan ini maka itu bukan kebenaran yang berasal dari Allah melainkan manifestasi perkataan iblis kepada Hawa,

Adapun ular ialah yang paling cerdik

dari segala binatang di darat

yang dijadikan oleh TUHAN Allah.

Ular itu berkata kepada perempuan itu:

"Tentulah Allah berfirman:

Semua pohon dalam taman ini

jangan kamu makan buahnya, bukan?"

Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu:

Buah pohon-pohonan dalam taman

ini boleh kami makan,

tetapi tentang buah pohon yang ada

di tengah-tengah taman,

Allah berfirman: Jangan kamu makan

ataupun raba buah itu, nanti kamu mati. "

Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu:

"Sekali-kali kamu tidak akan mati

tetapi Allah mengetahui,

bahwa pada waktu kamu memakannya

matamu akan terbuka,

dan kamu akan menjadi seperti Allah,

tahu tentang yang baik dan yang jahat."

Perempuan itu melihat,

bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan

dan sedap kelihatannya,

lagipula pohon itu menarik hati

karena memberi pengertian.

Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya

dan diberikannya juga kepada suaminya

yang bersama-sama dengan dia,

dan suaminyapun memakannya .

Iblis bukan saja memutarbalikkan perkataan Tuhan kepada Adam, bahwa sebuah kepastian bahwa pohon pengetahuan baik dan jahat tidak boleh dimakan buahnya sebab bila dimakan maka akan mati. Namun Iblis mengulang perkataan Tuhan ini dengan jebakan yang licik bahwa semua buah di dalam taman ini tidak boleh dimakan semua bukan? Jadi Hawa harus memberikan jawaban bahwa semua boleh tetapi yang pohon pengetahuan baik dan jahat tidak boleh dimakan. Ini jebakan, manusia harus menjawab hanya boleh dan tidak! Kebenaran sejati bukan bernuansa boleh dan tidak, tetapi nuansanya jauh lebih dari larangan dan hukuman saja, Paulus mengajarkan :

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini,

tetapi berubahlah  oleh pembaharuan budimu,

sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah

: apa yang baik,

yang berkenan kepada Allah

dan yang sempurna.[16]

 

Standar kebenaran sejati adalah kehendak Allah yang memiliki tiga dimensi yakni baik yang berkenan kepada Allah dan sempurna. Semua agama mengajarkan hal-hal yang baik tidak pernah ada agama apapun yang mengajarkan membunuh dan merampok serta melakukan hal-hal yang kotor. Namun baik menurut siapa? Karena baik menurut saya belum tentu baik menurut orang lain. Negara-negara tertentu melegalkan narkoba karena dianggap baik tetapi bagi hukum negara lain, kepemilikan narkoba dianggap melanggar hukum. Standar kebaikan harus setingkat Allah. Yang baik, berkenan kepada Allah dan yang sempurna tergambar dalam peristiwa ketika Yesus berjumpa dengan seorang yang merasa diri sudah melakukan yang baik, namun menurut Yesus Kristus itu bukan merupakan standar kebenaran yang sejati,

Ada seorang pemimpin bertanya kepada Yesus, katanya:

"Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk

memperoleh hidup yang kekal?

Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik?

Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.

Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah:

Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri,

jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu.

" Kata orang itu: "Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.

" Mendengar itu Yesus berkata kepadanya:

"Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan:

juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin,

maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.

" Ketika orang itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih,

sebab ia sangat kaya.

Lalu Yesus memandang dia dan berkata:

"Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum

dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."

Dan mereka yang mendengar itu berkata:

"Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"

Kata Yesus: "Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah."[17]

Kebenaran di luar Yesus menjadi liar menyesatkan dan membinasakan sebab essensinya hilang, yakni menjauh dari kasih karunia AllahYesus ingin mengingatkan baik standar kebenaran yang pertama tidak ada yang baik siapapun di dunia ini selain Allah. Perbuatan tidak berzinah, menghormati orang tua dan sederetan hukum agamawi belum sempurna jika tidak sesuai apa yang dikehendaki oleh Allah yakni dilakukan dengan kesungguhan hati dan pengorbanan secara total. Baik saja tidak cukup tetapi harus secara penuh dengan pengorbanan dan tidak ada kepentingan pribadi yang masuk di dalamnya sehingga harus disadari bahwa Yang baik adalah “ juallah seluruh hartamu dan berikan kepada orang miskin”. Standar ini memungkinkan seseorang hidup sungguh-sungguh demi kepentingan orang lain dan tidak ada sama sekali yang tersisa untuk kemegahan dan arogansi diri. 

 

Kata baik disini menunjukkan suatu kualitas sebagai manusia Allah. Karena orang yang ditebus akan melakukan perbuatan baik yang menjadi standar Allah. Paulus mengatakan : Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan  baik.[18]Perbuatan yang baik merupakan cirikhas seseorang berasal dari Allah atau dari kuasa kegelapan. Yohanes menulis dalam suratnya : ‘Saudaraku yang kekasih, janganlah meniru yang jahat, melainkan yang baik. Barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi barangsiapa berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah.[19] Kebaikan harus diberikan bukan saja kepada orang yang baik melainkan kepada orang yang jahat. Tuhan Yesus berkata: “kasihilah musuhmu, dan berdolah bagi mereka yang membenci dan menganiaya kamu”[20]Inilah perbuatan baik yang dikehendaki Allah.

Harus dipahami kebenaran ini kebaikan diajarkan oleh semua aliran kepercayaan namun Yesus memberikan contoh kebaikan yang sempurna yang berkenan kepada Allah yakni memberi pengampunan dan mendoakan orang yang telah menganiaya. Kepekaan berkenan kepada Allah adalah menyenangkan hati Tuhan dalam setiap jengkal kehidupan. Hal ini memang tidak mudah, tidak cukup datang ke gereja seminggu sekali, memberi sumbangan, setia perpuluhan dan tidak berlaku jahat. Itu tidak cukup berkenan kepada Allah! Dibutuhkan sebuah perjuangan yang panjang, sebab liturgi, prosesi agama sering kali menjerat orang-orang menjadi munafik dan fanatik yang hanya berkenan kepada lembaga agama dan tokoh-tokoh spiritualnya saja. Banyak penganut agama sangat baik, tidak melakukan hal-hal yang najis. Mereka setia beribadah, doa dengan tekun dan melakukan semua kebenaran yang tertulis. Namun realitasnya mereka menganggap diri orang paling benar, paling suci dan merendahkan orang lain. Hal itu sudah tidak lagi masuk dalam standar perkenanannya Tuhan

Perkenanan itu adalah hidup dalam “taste” nya Allah yakni seleranya Tuhan. Sementara untuk membawa seleranya Tuhan orang harus mengetahui resep apa yang ada di tanganNya. Resep makanannya Tuhan Yesus adalah melakukan kehendak Bapak[21]. Harus dipahami kehendak Bapa yang pertama menjadi penyembah Dia dalam roh dan kebenaran.[22] Yesus sengaja berbicara ini kepada perempuan Samaria yang sembahyangnya masih menghadap ke Yerusalem sebagai pusat peribadatan. Namun Yesus ingin mengingatkan bahwa ibadah yang berkenan kepada Allah adalah ibadah yang tidak terikat tempat, waktu dan cara-cara yang menjerat dan memaksa orang, karena dimana ada Roh Allah disitu ada kebebasan. Ibadah yang diatur sebaik mungkin, rapi dalam liturgi, indah dalam prosesi namun tidak menyenangkan hati Allah berarti sebuah kesia-siaan belaka.

Perkenanan Allah terjadi bila orang percaya berbuah lebat.[23] Buah ini berbicara soal tindakan, perkataan, pikiran yang bisa menjadi berkat orang lain. Menjadi terang dan garam dunia, dimana dunia yang penuh gelap ini menjadi terang oleh kebenaran Allah, dan menghambat kebusukan seperti fungsi garam. Namun di atas segala sesuatunya Roh kuduslah yang memberi buah Roh sehingga orang percaya dapat mempraktekkan, kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.[24]

Perkenanan Allah terjadi jika kita bekerja untuk perkara-perkara yang kekal, bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan  sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya. " Bekerja yang merupakan etos kerja adalah kesukaan Bapa karena Bapa juga bekerja[25] namun pekerjaan yang dimaksud adalah pekerjaan yang mendatangkan investasi kerajaan Allah yakni menyampaikan kesaksian hidup dimana Bapa dipermuliakan. Kebenaran yang berkenan kepada Allah membutuhkan stempel kesempurnaan. Bila kebenaran itu sudah baik dan dilanjutkan dengan berkenan kepada Allah dan sempurna artinya komplit dan lengkat serta dewasa dalam Tuhan maka itulah Injil sejati dari Kristus Yesus di luar itu kebenaran model apa yang diajarkan?

Sebagai kesimpulan Injil terkutuk adalah Injil lain yang tidak memenuhi standar kebenaran sejati yakni Yesus Kristus. Pemberitaan ini dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab mengubah kehidupan yang penuh kasih karunia dengan berbagai liturgi, prosesi ibadah yang menjerat umat dengan aturan hukum yang ketat. Seolah-olah sorga bisa diraih dengan usaha manusia dalam melakukan kebenaran Allah. Injil terkutuk adalah kebenaran yang bernuansa aroma lusifer yang menggoda Hama dalam skandal Taman Eden hanya berkutat pada boleh tidak, halal dan haram. Namun kebenaran sejati adalah Injil yang memberikan kelegaan kepada umat Allah untuk melakukan kehendak Allah tahu membedakan yang baik dan yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Untuk mendapatkannya seseorang harus rendah hati menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamatnNya sehingga hidup di dalam anugerahNya setiap hari sehingga harus dipahami ketika Tuhan mendapati dirinya maka ia sedang berada dalam kasih setia bukan sedang berada dalam kutukan. Amin hambaNya This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.



[1]  validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.

[2]  Reliabilitas, atau keandalan, adalah konsistensi dari serangkaian pengukuran atau serangkaian alat ukur.

[3]  Kebliger :  sesat dan keliru

[4]  Galatia 1”:8-9

[5]  Galatia 1:6-7

[6]  Markus 12:38-40

[7]   Yohananes 18:38

[8] Yohanes 17:17

[9]  Roma 2:21-22

[10]  Lukas 23:34 Yesus berkata: "Ya Bapa,  ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.

[11]  Yohanes 21:17 Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? " Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku .

[12]  Galatia 5:1

[13]  2 Korintus 3:6

[14]  Yohanes 6:63

[15]  Yohanes 6:67

[16] Roma 12:2

[17]  Luks 18:18-27

[18]  2 Tim 3:17

[19]  3 Yohanes 1:11

[20]  Lukas 6:27;Lukas 6:35; Matius 5:44

[21]  Yohanes 4:34 Kata Yesus kepada mereka: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak  Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.

[22]  Yohanes 4;23Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba  sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh  dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.

[23] Yohanes 15:8 Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.

[24]  Galatia 5:22,23

[25]  Yohanes 5:17 Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga."

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.