Facebook

Twitter

Google Plus

YouTube

Translate  

   

Login Form  

   

Photos Gallery  

   

Statistik  

Hari Ini248
Kemarin636
Minggu Ini6171
Bulan Ini25190
Total Pengunjung1312126

IP Kamu 35.168.111.191 Sunday, 26 January 2020

Guests : 42 guests online Members : No members online
   

GBI Holy Spirit  

Setiap Hari Minggu
Jam 16.00 WIB
(MULAI APRIL 2019)
 
Gembala Sidang :
 
Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Th
Hubungi :
Email : tbsarono@gmail.com
PIN BB : 57FBC4AB
Twitter : @timbsarono
FB : Timotius Bakti Sarono
Instagram timotiusbaktisarono
 
 
 
   

Donasi  

 
 
 
BCA. NOMOR REKENING :
0013075007
HOLY SPIRIT MINISTRY

...orang benar memberi tanpa batas (Amsal 21:26)

 

 
   

Chating  

   

FB Timotius Bakti Sarono  

   

KAFIRNYA SELAMAT NATAL

Pdt. Timotius Bakti Sarono,M.Pd.K

 

Kontroversi haramnya ucapan selamat natal menjadi viral dalam ranah kehidupan beragama di Indonesia. Padahal ucapan ini tidak mendatangkan penyakit atau membuat kaya bagi siapapun baik yang mengucapkan atau yang menerimanya. Orang yang mengucapkannya tidak sedang berkata kotor, najis atau mengeluarkan kata-kata kutuk sumpah serapah sehingga mendatangkan dosa. Justru ucapan yang membahagiakan orang lain itu mendatangkan berkat atau ridho Allah katanya. Namun herannya itu hanya terjadi di Indonesia bukan di negara lain termasuk di Arab Palestina sebagai pusatnya agama islam. 

Ini kisah nyata saat saya ada di Palestina yang mayoritas muslim penduduknya. Pada bulan Desember tanggal duapuluh lima saya menari dan bergandengan tangan dengan wanita-wanita muslim untuk  merayakan natal beberapa tahun lalu. Mereka tidak hanya mengucapkan merry Christmas tetapi merayakannya dengan sukacita seolah-olah Natal adalah miliknya. Saya heran, sebagai orang Indonesia jiwa kearifan lokal muncul, sehingga  saya bertanya kepada mereka? Apakah kalian orang Kristen? Perlu diketahui beberapa aliran agama Kristen disana sebagian ada yang berjilbab.  

Mereka serentak berkata : Tidak kami  muslim… saut mereka dalam hitungan detik. Saya melanjutkannya .. mengapa kalian ikut merayakan Natal? ..itulah jiwa kupernya orang Indonesia yang bagaikan katak dalam tempurung yang selalu berada dengan orang-orang yang suka membedakan agama. Mereka cukup marah dan kembali menjawab dengan nada meninggi jawabnya : “Yesus Kristus bukan milik Alkitab melainkan milik Alquran kami menyebutnya Isa Almasih dan itu lahir di negara kami. Jadi kami muslim berhak merayakannya,, ok thanks kata saya mengakhirinya dengan menari bersama. 

Benar kata Gusdur : “Mestinya yang merayakan hari Natal bukan hanya umat Kristen, melainkan juga umat Islam dan umat beragama lain, bahkan seluruh umat manusia. Sebab, Yesus Kristus atau Isa Al-Masih adalah Juruselamat seluruh umat manusia, bukan Juruselamat umat Kristen saja”[1]  Harus dipahami bahwa Natal adalah sebuah peristiwa yang juga diungkapkan dalam kitab suci agama  lain. Walau tidak diceritakan secara detil seperti Alkitab namun harus diakui fakta kelahiran Isa Almasih diinformasikan sepenggal-penggal. Namun itu tidak mengurangi fakta tentang Maria yang perawan menerima berita dari Malaikat dan hamil karena Roh Kudus. Ini fakta cerita suci yang harus dipahami dengan hati yang murni dan pikiran yang jernih bukan dengan hati yang kotor dan stubborn[2]. Jika kita menganggap dan mempercayai kitab suci kita tidak salah maka realitas yang harus dipahami bahwa benih Allah akan menghadirkan Allah benih manusia akan menghadirkan manusia. Jika Yesus Kristus atau orang sebut Isa Almasih itu lahir dari Roh Allah maka Ia adalah Allah karena Ia lahir dari kandungan Maria maka Ia adalah manusia. Natal adalah hadirnya manusia seratus persen dan Allah seratus persen itu hanya ada di dalam Yesus Kristus, dan  orang menyebutnya Isa Almasih Alahisalam.  

Jika orang hanya memandang satu sisi Allah yang melahirkan maka akan selalu nyinyir dengan ucapan-ucapan bodoh yang menjijikan untuk didengar di telinga katanya “   … selamat ya …Allah yang melahirkan ... Allah koq beranak … siapa bidannya? Kalau begitu Allah punya istri donk kan beranak? .. Orang-orang model ini melecehkan kitab sucinya sendiri? Apakah malaikat berbohong jika Allah memberikan kehamilannya melalui Roh Kudus? Apakah karena kata anak selalu harus berurusan dengan kawin mengawinkan? Bukankah anak tangga, anak kunci tidak pernah kawin bukan? Jika istilah dijadikan bahasa baku maka itu mestinya diucapkan oleh orang-orang yang tidak berpendidikan dan tidak layak menjadi panutan apalagi tokoh agama. 

Orang harus mengerti bahwa tidak ada seorang kristenpun yang sungguh-sungguh mencintai Tuhan mengharapkan ucapan natal dari siapapun juga. Karena ucapan Natal tidak menambahkan atau mengurangi iman sedikitpun. Tidak pernah ada gereja atau Pendeta menangis dan merasa menjadi tersiksa karena tidak menerima ucapan natal. Keributan tidak mengucapkan natal tidak pernah muncul dari Alkitab atau dari mimbar-mimbar gereja. Orang yang selalu membuat gaduh persoalan ucapan Natal berawal dari kelompok penafsir-penafsir kitab suci yang hanya melihat satu sisi kebenaran untuk diri sendiri atau kelompoknya. Biasanya para penafsir ini tidak pernah melihat dari sisi kemanusiaan, keadilan dan kebaikan terhadap sesama.  Seharusnya kebenaran yang berasal dari Allah yang benar akan membuat kesejukan dan kedamaian bagi sesama makluk ciptaan. Bila tidak demikian maka harus dipahami siapakah yang memberikan kebenaran dengan memisahkan satu makluk ciptaan? Seolah-olah satu diindoktrinasi lebih berharga dan terpilih dari Allah dibandingkan yang lainnya. 

Kalau berbicara soal fanatisme beragama tidak ada yang melebihi bangsa Israel. Mengapa demikian? Karena satu-satunya bangsa yang dipilih oleh Allah adalah Israel dan tidak ada yang lainnya. Hal ini juga diakui dunia dan kitab suci manapun juga, dari sinilah muncul agama besar yakni tiga agama samawi baik Kristen, Islam atau Yahudi. Bahkan warisan agama tertentu  hampir menyontek  delapan puluh bisa sembilan puluh persen adat dan kebiasaan Yahudi. Baik kiblat, puasa, cara doa 3 waktu, mengucapkan kalimat-kalimat suci bahkan cara berpakaianpun mengikuti persis orang Yahudi. Ingat kisah-kisah Nuh, Abraham, Lot, Yusuf dan masih banyak lagi berasal dari cerita-cerita kitab Yahudi bukan dari pewahyuan perseorangan. Kitab yang sudah ada ribuan tahun yang dikisahkan sepenggal-penggal bukan rincian secara detil seperti kitab orang Yahudi yang dampaknya orang menuduh kitab sucinya sudah dipalsukan.  

Allah Sang Pencipta yang disebut Allah Abraham Ishak dan Yakub telah menjumpai Musa dan menetapkan sebagai Pemimpin untuk membawa suku-suku Israel ke Tanah Perjanjian. Pemilihan yang dengan istilah dimuliakan, diutamakan dan banyak lagi memberikan fakta bahwa Israel satu-satunya umat pilihan Allah. Dari sinilah muncul kata “goyim” yang berarti di luar Israel adalah bangsa-bangsa kafir alias bangsa yang bukan pilihan Allah sendiri. Kata kafir inilah yang sering kali dikriminalisasikan untuk agama-agama tertentu, diserongkan dipakai menjadi super power untuk agamanya.  Padahal kata itu diperuntukkan khusus bangsa-bangsa yang bukan pilihan Allah termasuk Eropa, Amerika, Rusia, Asia apalagi Indonesia. 

Kehebohan ucapan selamat natal ini begitu gencarnya sejak HTI menggerakkan kader-kadernya di sekolah negeri. Sebagai penulis yang sekaligus pegawai negeri dua puluh tahun lalu ketika natalan sekolah negeri, tidak pernah menjadi persoalan.  Mereka anak didik yang beragama muslim ikut memeriahkan dengan tari-tarian dan makan bersama usai acara ibadah. Mereka tidak merasa bahwa dirinya kurang iman atau kadar imannya luntur. Guru Kristen dan Islam bersama-sama menikmati perayaan Natal makan bersama di Restauran tanpa doa-doa Kristen atau mendengar dalil-dalil yang meruntuhkan iman mereka. Kenikmatan hidangan Natal membuat guru Kristen dan Muslim bersatu dalam canda tawa tanpa sedikitpun membedakan sisi keagamaan. Tidak ada syiar atau dakwah dan ajakan menerima kebenaran selain kitab sucinya. Kesatuan sebagai makluk ciptaan terbina dengan sangat akrab. Semuanya mulai pudar sejak kader HTI masuk sebagai guru agama dan mulai melarang, anak-anak muslim yang ikut tari dimaki-maki, dengan omelan mengapa ikut merayakan natal… atau yang ikut makan makanan haram.. Padahal saya sebagai seorang yang mengerti kebenaran tidak ada satu makanan haram seperti babi disana. Itulah dukacita cita saya sebagai pegawai negeri … dimanakah kebersamaan kemanusiaan memang kita bukan saudara seiman tetapi kita saudara dalam kemanusiaan. Kalau pemerintah tidak memperlakukan HTI seperti PKI maka runtuhlah negeri ini dalam hitungan tahun terutama dalam dunia pendidikan. 

Jika dianalisa pelarangan ucapan Natal maka di dapati beberapa hal. Pertama pelarangan ini adalah fatma MUI[3] namun demikian usai fatwa ini Hamka mengundurkan diri[4]. Persis di zaman Yesus hukum Taurat yang seharusnya menjadi pedoman kehidupan bangsa Israel menjadi berat karena ditambahai lembaga agama yang diwakili oleh ahli-ahli Taurat. Pelarangan ini dimulai dari keputusan lembaga agama. Namun diantara merekapun masih silih pendapat tentang haramnya mengucapkan selamat natal.

Dalam portalnya Islami.co menerangkan tentang polemik ini, Polemik pengucapan Selamat Natal sejatinya baru muncul ketika ada ucapan dari Buya Hamka, yang pada masa itu menjabat sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), dianggap telah melarang untuk mengucapkan Selamat natal kepada umat Nasrani. Argumentasi ini kemudian dijadikan rujukan bagi kelompok yang menolak atau mengharamkan mengucapkan Selamat natal. Namun, dari internal MUI sendiri, sebagaimana yang diucapkan oleh Kiai Ma’ruf Amin dalam beberapa kesempatan, telah mengatakan bahwa MUI sedari awal tidak pernah melarang umat Islam untuk mengucapkan Selamat Natal “merry christmas” kepada umat Nasrani. Kiai Ma’ruf lebih menekankan urusan pengucapan Selamat natal kepada masing-masing individu.

Pernyataan tentang haramnya mengucapkan Selamat Natal dari MUI di masa Buya Hamka tidaklah benar. Buya Hamka tidak melarang umat Islam untuk mengucapkan Selamat Natal kepada umat Nasrani. Buya hanya melarang untuk mengikuti seluruh proses misa ketika Natal karena hal ini sudah masuk dalam ranah teologi. Pernyataan ini disampaikan juga oleh anak cucunya, Irfan Hamka[5]. Hal kedua pelarangan ucapan selamat natal bersumber dari ayat-ayat yang mereka tafsirkan[6]. Allah mana yang menciptakan ayat-ayat yang menceraiberaikan satu dengan yang lainnya? Allah model apakah Dia yang menciptakan kebenaran untuk manusia namun merusak sendi-sendi kemanusiaan? Orang harus paham bahwa Allah adalah Pencipta kebenaran tetapi Ia adalah Allah yang bukan pelanggar kebenaran. Kebenaran itu seharusnya memberikan hidup yang berkelimpahan (Yohanes 10:10b) yang dalam bahasa Yunaninya Perissoyang memiliki arti kehidupan yang super kualitasnya. Dalam arti hidup yang berkualitas selama di bumi ini, orang yang berkualitas memandang sesamanya bukan dari agamanya melainkan dari sisi kemanusiannya. 

Orang bijak pernah berkata : “jika kamu tidak bisa melihat Tuhan di dalam diri orang lain, jangan pernah mencari di kitab manapun  maka kamu tidak akan menjumpainya. Ini berarti Tuhan ada di dalam makluk ciptaan yang harus dihargai dan dihormati, Allah tidak pernah membuat kebenaran yang menentang dirinya sendiri. Jika ada ayat yang dianggap demikian dapat dipastikan mungkin salah dalam memahami dan mempraktekkan. Apalagi di Zaman Yesus tokoh-tokoh agamanya merupakan orang-orang bodoh yang tahu cuma informasi ayat bukan essensi ayatnya. Selain itu mereka merasa diri lebih dari yang lainnya sehingga mengeluarkan fatwa seenak perutnya sendiri. Inilah yang membuat Yesus bukan saja mengambil jarak tetapi selalu berseberangan dengan mereka yang disebut ahli-ahli kitab plus ahli-ahli sorga.  

Alasan yang sangat sederhana tidak mengucapkan selamat natal karena ucapan itu bukan dari agamanya. Ada banyak ucapan yang bukan berasal dari agama. Orang harus sadar bahwa bagian hidup ini bukan hanya agama. Ada sisi sosial, intelektual, kebudayaan dan masih banyak lagi. Orang yang mabuk agama karena dianggapnya candu maka di matanya hidup ini agama. Padahal masih banyak hal lain yang dipikirkan apakah dengan melihat agamanya orang pasti masuk sorga? Lihatlah orang yang maniak terhadap agamanya berujung dengan bom bunuh diri. Ingat ayat dan mayat? Apakah ayat-ayat bisa menciptakan mayat? Seharusnya ayat mendatangkan sorga sekalipun tidak pernah jadi mayat karena terjadi pengangkatan[7]. Jika ayat hanya bisa menciptakan mayat maka sia-sialah iman kita. Karena orang benar hidupnya tidak berakhir di kuburan melainkan dalam kekekalan. Alamat aslinya sorga kekal, RT kelimpahan, Rw Keberkatan nomor sukacita. Sebaliknya ayat yang hanya bisa menciptakan mayat alamatnya : jalan neraka kekal, RT kematian kekal, RW malapetaka nomor penderitaan kekal. Bukankah ayat semua kitab suci menjanjikan sorga bukan menjanjikan mayat? 

Untuk tahu menghargai makluk ciptaan maka orang harus memiliki deposit spirit. Deposit ini kekayaat spiritual, kerendahan hati, keselamatan, kesabaran dan masih banyak hal yang baik-baik sehingga menciptakan hidup berkualitas. Untuk menjadi orang yang berkualitas maka Yesus memperingatkan supaya kekayaan rohani tidak boleh dicuri oleh iblis, hal ini terjadi karena kerohanian yang hilang telah dicuri sehingga terjadi pembunuhan  karakter dan berakhir dengan kebinasaan (Yoh 10:10a). Orang yang memiliki defisit spirit akan selalu kuatir imannya berkurang jika bergaul dengan yang bukan seiman. 

Mengucapkan selamat natal dianggapnya menyatu dan menyetujui dengan iman mereka. Kata mereka bahwa kalau mengucapkan selamat atas kelulusannya, itu berarti kita mengakui akan hasilnya dan menyatu dengan keberhasilannya. Saya puluhan kali mengucapkan selamat atas perkawinan sahabat-sahabat saya tapi saya tidak pernah menyatu dengan perkawinan mereka? Ucapan itu hanya membahagiakan mereka entah saya setuju atau tidak setuju mereka kawin dengan siapa.. itu bukan urusan saya. Atau saya mengucapkan selamat atas wisuda mereka yang dari binus lulus dengan cum laude bidang Komputer, sesudah saya mengucapkan selamat atau wisuda mereka saya juga tidak menjadi professional tentang computer seperti mereka. Apanya yang salah? Persoalan ucapan selamat natal sebenarnya bukan persoalan lidah dan bibir namun persoalan nurani yang jernih sudah mendapat pencerahan atau memang hati mereka bebal. 

Orang Kristen tidak pernah alergi atau terdegradasi maupun terdistorsi tanpa ucapan natal. Obsesi kekristenan adalah bayi natal bukan ucapannya yang sering menjadi gaduh buat orang-orang yang memang hatinya gaduh[8] . Namun demikian setiap orang percaya harus memperlakukan dengan kelemah lembutan dan kasih yang mendalam. Mereka juga merupakan keturunan Abraham. Tanpa pengertian yang benar bahwa kemuliaan mereka akan berkurang. Yesaya mengatakan : “Sebab beginilah firman Tuhan kepadaku: "Dalam setahun lagi, menurut masa kerja  prajurit upahan, maka segala kemuliaan  Kedar  akan habis (Yes 21:16). Ini berarti bahwa kemuliaan Kedar menjadi konsumsi kehancuran dalam hitungan kronos[9]. Sekalipun ucapan ini terjadi kira-kira lima ratus tahun sebelum Masehi maka jika kebenaran selalu diselewengkan akan menghasilkan kehancuran diri sendiri maupuan korporet baik dalam skala kecil maupun besar. 

Selanjutnya Yesaya mengatakan bahwa : Segala kambing  domba kedar akan berhimpun kepadamu, domba-domba jantan Nebayot akan tersedia untuk ibadahmu; semuanya akan dipersembahkan di atas mezbah-Ku sebagai korban  yang berkenan kepada-Ku, dan Aku akan menyemarakkan rumah keagungan-Ku (Yesaya 60:7). Barnes menafsirkan ayat ini dengan baik. Ia katakan : “Harus melayani kamu - Yaitu, dengan datang sebagai korban yang dapat diterima di altar. Orang-orang Yahudi terbiasa mengekspresikan ide-ide mereka tentang ibadah dengan pengorbanan, dan nabi secara alami menggunakan bahasa itu. Intinya adalah, bahwa pertobatan suku-suku yang berkeliaran di Arab akan sama pasti dan sebagai sinyal seolah-olah banyak kawanan Kedar dan Nebaioth harus dikhususkan untuk Yahweh dalam pengorbanan. Semua yang berharga di sana akan digunakan dalam pelayanannya; orang-orang akan datang dengan persembahan mereka yang paling berharga dan menguduskannya untuk Tuhan. 

Jelaslah bahwa ini masih harus dipenuhi. Paulus, memang, berkhotbah di Saudi Galatia 1:17; dan, tidak diragukan lagi, ada beberapa pertobatan ke Kristen di sana. Tetapi, sebagai umat, mereka tidak pernah dipertobatkan kepada Allah yang benar; dan di segala usia mereka telah menjadi korban penyembahan berhala atau takhayul. Akan tetapi, saatnya akan tiba, ketika Saudi, begitu menarik seperti dihuni oleh keturunan Abraham; begitu menarik dalam karakter suku-suku yang berani, aktif, dan energik; sangat menarik seperti menggunakan bahasa yang merupakan salah satu yang paling halus dan paling banyak digunakan di dunia; dan sangat menarik sebagai, di beberapa bagian setidaknya, di antara yang paling subur dan indah di bumi, akan dipertobatkan kepada Allah. Mungkin iklim dunia yang paling sejuk, murni, dan menyenangkan adalah bagian selatan Arabia - negara Yaman; dan ketika orang-orang Arab akan membawa energi karakter mereka untuk melayani Allah yang benar, dan Injil akan diberitakan dalam bahasa mereka kepada semua suku mereka, tidak ada yang dapat memprediksi efek yang akan terjadi pada seluruh pertobatan dunia. Idenya adalah, bahwa dia akan menghiasi kuil dengan membawa bangsa-bangsa yang jauh, dengan harta mereka yang paling berharga, untuk beribadah di sana. Artinya, agama yang benar belum akan tampak mulia ketika bangsa harus mengakuinya dan tunduk pada persyaratannya[10].

Jadi merupakan sebuah kesimpulan yang belum tersimpulkan secara ilmiah bahwa yang menjadi kafir bukanlah kata ucapan selamat natal melainkan orang-orang yang belum memahami jati diri sebagai makluk ciptaan Allah yang termulia. Jika dia sadar bahwa mereka makluk yang termulia maka mereka akan memuliakan Allah melalui makluk ciptaanNya. Orang yang beragama harus terikat dengan Allah dan orang harus memahami bahwa Allah adalah kasih dan agama yang benar harus memperlakukan sesamanya dengan kasih bukan memvonis kafir orang lain atau alergi dengan ucapan-ucapan kebahagiaan. Jika sang Pencipta datang ke Indonesia Dia tidak sedang menunjukkan senyumnya melainkan air matanya pasti meleleh dalam dukacita karena agama yang seharusnya menjadi jalan kehidupan menjadi jalan kematian. Melalui agama orang saling mencela, merasa diri paling rohani sebagai pilihan Allah. Sementara banyak penganut agama sudah kehilangan AllahNya. Jangan buat Dia murka

 



[1] https://www.isadanislam.org/kepercayaan-orang-kristen/umat-beragama-wajib-merayakan-natal/

 

[2] Arti kata stubbornStubborn berarti ks. 1 keras kepala, bandel. s. as a mule keras kepala seperti kemar. 2 susah dihilangkan (of a stain) sumber : https://lektur.id/arti-stubborn/

 

[3] Dalam Fatwa MUI Tentang Perayaan Natal Bersama Tertanggal 1 Jumadil Awal 1401 H/ 7 Maret 1981 yang ditandatangani oleh KH. Syukri Ghozali selaku Ketua Komisi Fatwa dan Drs. Mas’udi selaku Sekretaris Komisi Fatwa, Majelis Ulama Indonesia memfatwakan bahwa:Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa as, akan tetapi Natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan di atas. Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram. Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan perayaan Natal. Fatwa MUI yang dikeluarkan tahun 1981 pada era kepemimpinan Buya Hamka di atas dengan jelas mengharamkan umat Islam untuk mengikuti perayaan Natal yakni mengikuti proses ritual keagamaan mereka. Tetapi mengenai ucapan selamat Natal sendiri  tidak pernah dibahas dan dijelaskan dalam fatwa MUI tersebut. Sumber : https://harakahislamiyah.com/diskusi/fatwa-para-ulama-tentang-hukum-mengucapkan-selamat-natal

[4] ibid

[5] https://islami.co/meluruskan-sejarah-ucapan-buya-hamka-tentang-haramnya-mengucapkan-selamat-natal/

[6] Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” (Ahkam Ahli Dzimmah, 1: 441) Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan pula,

تهنئة الكفار بعيد الكريسمس أو غيره من أعيادهم الدينية حرامٌ بالاتفاق

“Ucapan selamat hari natal atau ucapan selamat lainnya yang berkaitan dengan perayaan agama orang kafir adalah haram berdasarkan sepakat ulama” (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 3: 45). Sumber :mAkhi, ukhti, yuk baca tulisan lengkapnya di Rumaysho: 
https://rumaysho.com/3053-ulama-sepakat-haram-mengucapkan-selamat-natal.html

[7] http://www.holyspiritministry.info/index.php/skenario-kiamat/250-pengangkatan-orang-percaya1

[8] kejadian 16:2 Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai  liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya

[9] https://biblehub.com/commentaries/barnes/isaiah/21.htm

[10] https://biblehub.com/commentaries/barnes/isaiah/60.htm

Bagikan postingan..

Submit to DeliciousSubmit to DiggSubmit to FacebookSubmit to Google BookmarksSubmit to StumbleuponSubmit to TechnoratiSubmit to TwitterSubmit to LinkedIn
   
FacebookTwitterGoogle BookmarksPinterest
   
Copyright © 2013 Holy Spirit Ministry. Jl. Gading Griya Lestari F III No.9 Jakarta Utara
Telp. 08176771900 / 0816706262, 085310205759, 081319997803, 02170363030, 08129497950, 082111120109
Designed by DwimShop.com All Rights Reserved.