Yesus menyatakan secara jelas bahwa sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan (Yoh 3:14,15).

3.2. Penyaliban menurut Injil Yohanes
      Injil ini ditulis oleh Yohanes yakni “Murid yang dikasihi Yesus”41  (Yoh 21:20,24). Dalam memberitakan tentang Yesus, Yohanes memulainya dari keberadaan Yesus sebelum hadir di dunia ini dengan menyebut Yesus adalah Kalam Allah       (Yoh 1:1-3). Yohanes juga menyebut Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa manusia (Yoh 1:29). Alkitab menyebutkan “simbol pengorbanan darah Anak Domba ini sebanyak 32 kali.”42 Dalam pengajaranNya Yesus menubuat kan cara kematianNya yakni disalib (Lih. hal. 40 tentang Yesus tidak pernah mengatakan akan disalib). Istilah yang dipakai Yesus adalah “Ia akan ditinggikan,”
“Dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepadaKu”(Yohanes 12:32) 
      Yohanes memberikan keterangan bahwa pengajaran itu berbicara soal bagaimana  caranya Ia akan mati (Yoh 12:33). Perkataan ditinggikan  berasal dari kata Yunani “Hupso” yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris Lift up on high, yang mengacu kepada penyaliban Yesus Kristus.”43 Yesus menyatakan secara jelas bahwa sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan (Yoh 3:14,15).
       Seluruh pemberitaan Yohanes tentang Yesus dikaitkan dengan hubungannya dengan Allah, inilah yang menonjol dalam Injil Yohanes. Kisah Penderitaan Yesus dalam pembahasan ini dimulai dari penangkapan Yesus di taman Getsemane. Yohanes menyebutkan tempatnya diseberang sungai Kidron, (18:1) dan langsung kepada peristiwa penangkapan tanpa menyinggung jenis doa yang diucapkan Yesus.
       Peristiwa penangkapan dikisahkan oleh Yohanes dengan keajaiban berbeda dengan Injil Sinoptis dimana Yesus menghampiri mereka yang akan menangkapNya, dengan perkataan : “Maka Yesus yang tahu semua yang akan menimpa diriNya, maju kedepan dan berkata kepada mereka : siapa yang kamu cari?” (Yoh 18:4-5) jawab mereka: “Yesus orang Nazaret.” KataNya kepada mereka: “Akulah Dia,” maka mereka rebah, dan hal itu terjadi sampai 3 kali, ini menunjukkan keillahianNya, sehingga tidak ada satupun yang tahan berdiri dihadapan keagunganNya.
      Proses pengadilan dimulai dari Kayafas sebab Ia mertua Hanas (ay 13) yang menjabat Imam Agung, pertanyaan kayafas dijawab secara terang-terangan oleh Yesus (ay 20-21), Perkataan yang tegas ini membuat Yesus ditampar (ay 22), dan Yesus meminta bukti dimana letak kesalahan jawabanNya kepada Imam besar (ay 23), disinilah Petrus menyangkal Yesus selama 3 kali. Proses persidangan yang dikemuka kan oleh Yohanes tidaklah banyak berbeda dengan Injil sinoptis. Penekanan yang diberikan adalah keterangan-keterangan Yesus tentang maksud dan kedatanganNya dimuka bumi serta kerajaanNya. Ia menyatakan dengan tegas bahwa Ia adalah Raja (ay 37). Sikap Pilatus dikisahkan tidak berbeda dengan Injil sinoptis, ketika ia berjumpa dengan Yesus, ia menyuruh orang Yahudi menghakimi dengan Tauratnya (ay 31). Orang Yahudi menolaknya. Jika Yesus diadili dengan Torat maka hukuman nya adalah rajam bukan salib. Percakapan Pilatus dengan Yesus dalam pengadilan, memiliki kesimpulan bahwa Yesus tidak bersalah, dan tidak layak dihukum mati, untuk memuaskan orang Yahudi Pilatus menyuruh menyiksa Yesus, dan para prajurit menaruh mahkota duri diatas kepalaNya serta menghinaNya. Kemudian memperlihat kan Yesus dihadapan mereka dan ia mengucapkan perkataan yang paling terkenal adalah  “Ecce Homo” yang berarti “lihatlah manusia itu.” (Yoh 19:4) “Pilatus tidak memahami apa yang diucapkannya namun perkataannya berkumandang keseluruh dunia dan menarik pandangan semua generasi kepada wajah yang terluka itu.”44 Kenyataannya orang Yahudi tidak puas terhadap penyiksaan yang dilakukan terhadap Yesus, mereka menghendaki kematianNya (ay7).
      Ketika orang-orang Yahudi mengatakan dihadapan Pilatus dengan tuduhan  “Yesus mengaku diriNya Anak Allah,” Pilatus mengalami ketakutan, adapun dasar ketakutan tersebut adalah :
... Perkataan itu menimbulkan kembali ingatan akan cerita-cerita lama yang sudah dilupakan masa kanak-kanaknya, dan menghidupkan kembali ketakutan dari seorang penyembah dewa, yang merupakan pokok cerita beberapa drama Yunani yang besar, yaitu tanpa sadar melakukan kejahatan, yang dapat mendatangkan pembalasan yang mengerikan dari para dewa. Mungkinkah Yesus Anak Yahweh bangsa Ibrani, seperti Castor dan Pollux adalah anak-anak Yupiter...45

Maka segera ia menarik Yesus kedalam dan bertanya dari mana asalMu? (ay 9) tetapi Yesus tidak menjawab. Niatnya membebaskan Yesus bertambah, ketika Yesus mengatakan bahwa kekuasaanNya berasal dari Atas (ay 11) Pilatus mencoba membebaskan Yesus dengan ucapan ‘Inilah Rajamu, haruskah aku menyalibkan rajamu? (ay 13,14) orang Yahudi tidak mau mengakui Mesias sebagai Raja, tetapi lebih suka menganggap kaisar (penjajah,pemimpin kafir yang membawa kesengsaraan bangsanya yang paling dibenci) menjadi rajanya. (ay 15) Pilatus memahami semangat kekaisaran yang palsu itu, tetapi karena takut akan pengaduan kepada Kaisar maka Yesus diserahkan kepada orang Yahudi untuk disalibkan.
      Tetapi Pilatus tidak ingin kalah begitu saja ia memberikan gelar kepada Yesus “Raja orang Yahudi,”(ay 19), tulisan ini bukan saja bernada ejekan tetapi sebagai alasan mengapa Yesus disalibkan. Pilatus menyuruh menuliskan Yesus orang Nazaret, raja orang Yahudi, sekalipun ditentang oleh orang-orang Yahudi, Pilatus tetap tegas dalam keputusannya.
      Ketika Yesus melihat Yohanes dan ibuNya maka Ia berkata, “Ibu, inilah anakmu” kemudian berkata kepada murid yang dikasihiNya, “inilah ibumu”(26). Perkataan Yesus selanjutnya  adalah : ”Aku haus!”  Ia diberi anggur  asam  dan setelah mencipiNya maka Ia  meminumnya, (ay 29). Menjelang ajalNya, Ia berkata: “Sudah genap” kemudian Ia menundukkan kepala dan menyerahkan nyawaNya        (ay 30). Mengingat saat itu adalah persiapan Paskah, maka  tidak boleh ada mayat diatas salib. Untuk mempercepat kematian orang yang disalibkan salah satu caranya, adalah mematahkan kaki orang yang disalibkan. Ini berlaku untuk kedua penjahat sebab mereka belum mati (ay 32, lih. hal 42 tulang kaki Yesus tidak dipatahkan tanda masih hidup) sedangkan kaki Yesus tidak perlu dipatahkan sebab Ia memang sudah mati (ay 33). Cara peremukan tulang itu dipakai untuk mempercepat kematian sedangkan 2 orang yang disalib masih hidup, padahal hari Paskah tidak boleh ada mayat yang tergantung diatas salib, maka cara “peremukan tulang kaki” ini perlu dilakukan. sedangkan Yesus tidak perlu sebab bukan Dia yang masih hidup justru Ia sudah mati! Peremukan yang diceritakan hanya menyangkut cara kematian dan bukan fungsinya tulang seperti yang dituduhkan pihak muslim.
       Salah seorang dari Prajurit menikam lambungnya dengan tombak dan segera keluar darah dan air (ay 34). “Ini membuktikan bahwa Yesus telah mati. Tidak seperti yang dituduhkan oleh doketis (termasuk Islam ahmadiyah) bahwa Yesus mati semu,”46 Mengenai darah dan air yang keluar dari lambung Yesus dapat diperoleh keterangan dari dokter-dokter kenamaan sebagai berikut

... Dr. Pierre Barbet, seorang ahli bedah dan ahli anatomi manusia, menerangkan sebagai berikut: tombak yang ditikamkan pada lambung Yesus itu menembus pleura (selamut yang menyelubungi paru-paru) dari paru-paru kanan, kemudian merobek pericardinaum (kantong sekeliling jantung) dan menusuk serambi kanan jantung. Akibatnya, serum  dari pericardium, yang encer seperti air, mengalir keluar bersama-sama dengan darah. Dokter lain mempunyai teori lain : Yesus pada waktu itu tentulah mengalami pendarahan di dalam dadaNya (hydrohemothorax). Pendarahan ini diakibatkan karena siksaan-siksaan yang telah menimpa dadaNya, seperti penderaan, dan karena posisi tergantungnya disalib sebelum meninggal. Oleh karena berat, darah yang lebih berat akan memisah. Mereka ini juga mengemukakan bahwa, seandainya tidak  terjadi pendarahan didalam dada, menumpuk cairan atau serum di dalam rongga pleura (selaput paru-paru) dapat juga terjadi akibat dari jantung yang tersumbat (congestive heart failure atau massive myocardial infarct). Timbunan cairan itu sesudah kematian dapat menjadi cukup banyak jumlahnya, sehingga bila keluar dari lambung yang ditikam, dapat terlihat oleh mata telanjang...47
 
     Kata “melihat” (Yoh 19:33) tidak dapat disamakan dengan melihat dalam arti kiasan, (Lih hal 43 tuduhan melek tapi tidak melihat), sebab bukan saja berbeda latar belakang topik pengajaran, ayat tersebut menerangkan bahwa kesaksian mereka benar adanya (ay 35).
     Bagi mereka yang meragukan “tidak mati jika disalib 3 jam” mungkin ada benarnya jika penyaliban itu jenisnya seperti kedua penjahat yang berada disamping Yesus. Mayat Yesus diturunkan oleh Yusuf Arimatea dan Nikodemus anggota Sanhedrin. “Nikodemus  menunjukkan pengabdiannya dengan membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, lima puluh kati beratnya “( + 33 Kg) harga yang cukup mahal.”48 Mereka yang terlibat dengan penguburan Yesus dikisahkan tidak berbeda dengan Injil Sinoptis. Pada hari ketiga Yesus bangkit dan kemudian Ia menampakkan diri kepada murid-muridNya.
        
4.Kesimpulan :
     
      Fakta historis tentang penyaliban Yesus diberitakan oleh Alkitab secara akurat dan kronologis. Berawal dari nubuatan ribuan tahun sebelumnya dan kemudian digenapi secara sempurna dalam Perjanjian Baru. Meniadakan penyaliban Yesus berarti merendahkan nubuat-nubuat dari Allah.
      Al qur’an memberitakan Yesus  sebagai seorang yang mengajarkan jalan yang lurus ( Az Zukhuf 43, 61), yang diperkuat oleh Roh Kudus (Al Ba Qarah 253) tersebut mungkinkah berdusta? Yesus telah mengajarkan akan kematianNya, baik cara ataupun unsur-unsur yang mendahuluinya seperti penolakan, fitnah dan akhirnya kematianNya (semua dilakukan oleh orang ahli-ahli Torat/kitab, Al Baqarah 87). Pengajaran “Yesus tidak disalib” tidak mungkin terjadi bila dapat memahami perkataan Yesus sendiri.
      Kenyataannya Yudas sebagai seorang yang dianggap menggantikan Yesus sudah menggantung diri dan disaksikan oleh seluruh penduduk Yerusalem. Sedangkan sebelas murid yang lain, masih berkumpul dan menyangsikan bahwa Yesus bangkit serta menampakkan diri kepada mereka!
      Ayat-ayat Alkitab yang dipakai untuk menolak penyaliban Yesus pada dasarnya “salah ditafsirkan,” “keluar konteks” atau tidak dilihat dari alur cerita yang semestinya (diputar balikkan) sehingga tidak dapat dipahami maksud yang sebenarnya.
      Kebenaran penyaliban Yesus akan tetap berkumandang, sebab didalamnya setiap orang percaya memperoleh anugerah keselamatan! Untuk itulah Alkitab memberitakan peristiwa penyaliban bukan saja satu atau dua ayat melainkan beberapa pasal, dan ditulis bukan satu orang saja melainkan empat orang! Berita dari keempat penulis tersebut tidak saling bertentangan melainkan saling melengkapi. ?
     
     


                                                                        

 41  _______ Ensiklopedi Alkitab Masa Kini M-Z, cet 1, Yayasan Komunikasi Bina Kasih, Jakarta, 1995, hal 612
 42  Finis J. Dake Dake’s Annoted Reference  BibleThe New Testament, second edition, Printed in The United State of Amirica, 1961, page 93
 43  Finis J. Dake Op., Cit., page 110
 44 James Staler op.cit., hal 115
 45 Ibid. , hal 116
 46 Tafsiran Alkitab Masa Kini  (3) Matius - Wahyu  op.cit.,  hal 326
 47 A. widyamartaya, op.cit.,  hal. 54,55
 48  Tafsiran Alkitab Masa Kini (3) Matius- Wahyu op. cit., hal 327
---------------

------------------------------------------------------------

---------------

------------------------------------------------------------



61


Terakhir Diperbaharui (Minggu, 16 Maret 2008 06:03)