Namun secara tersirat bertebaran berbagai macam ayat yang merujuk akan keselamatan di balik kematian bayi ini. Keselamatan diperuntukkan bagi mereka yang tahu dan bisa memberikan reaksi percaya atau beriman kepada Kristus sebagai juru selamatNya.

            Penulis pernah melayani keluarga yang ditinggal mati oleh  bayinya. Kedua orang tuanya mengalami shock berat.  Anak semata wayangnya yang merupakan titipan Tuhan, sakit tidak tersembuhkan, dan akhirnya harus menghadap Tuhan dalam usia balita. Kedua orang tuanya rajin ke gereja, aktif melayani, dan selalu membawa anaknya ke gereja, bahkan puluhan pendeta telah mendoakan anak itu. Pengurapan dilakukan, puasa dijalankan agar bayi mungilnya terbebas dari penyakitnya, namun seluruh prosesi rohani yang dikerjakan tidak mampu juga menahan sang kematian, yakni  panggilan Bapa Surgawi! Dengan tanpa suara kedua orang tua menatap bayi yang terbujur kaku seakan-akan mendengar suara lirih bayi mungilnya yang pamitan : “...pa... ma..... aku duluan.... trimakasih mau merawat dan memelihara aku walau hanya sebentar saja, sampai bertemu nanti dalam kekekalan!” Hati siapa yang tidak miris menyaksikan buah hati satu-satunya dipanggil Tuhan. Orang tua seperti ini perlu penghiburan yang tepat bukan janji-janji sorga bikinan manusia.
 
Tidak termasuk kredo

      Kontroversi keselamatan di balik kematian bayi terus bergulir di kalangan jemaat Tuhan di sepanjang abad. Para teolog sendiri tidak berani memformatkan jawabannya ke dalam kredo atau pengakuan iman. Gereja bahkan tidak punya nyali mencantumkannya dalam dokma gereja. Memang sampai sekarang  kebenaran tentang keselamatan arwah bayi yang meninggal tidak menjadi perdebatan serius  antar denominasi gereja.
      Namun sekalipun tidak tercantum dalam dokmatika gereja maupun pengakuan iman, kebenaran mengenai arwah bayi yang meninggal masih sering diperbincangkan oleh jemaat Tuhan dan mereka yang ditinggal mati oleh buah hatinya menantikan jawabannya secara alkitabiah. Perlu dipahami juga bahwa keselamatan di balik kematian bayi juga tidak disampaikan oleh para pendeta di mimbar-mimbar gereja, sebab mengandung resiko dan menyita waktu untuk menerangkannya. Kebutuhan akan kebenaran ini khususnya sangat diharapkan bagi mereka yang mengalami dukacita karena telah ditinggalkan bayi kesayangannya.
      Apalagi di saat pelayanan-pelayanan kematian hal-hal seperti ini sangat vital dibutuhkan dalam memberikan penghiburan bagi orang tua yang ditinggalkannya. Jawaban sorga yang disodorkan bukan hanya hiburan lip’s service saja melainkan keakurasinya dapat dipertanggungjawabkan secaraAlkitabiah.
 
Pembelaan
 

     Kepastian akan sorga yang ditawarkan kepada bayi yang telah meninggal mayoritas diterima oleh berbagai kalangan. Namun berangkat dari manakah jawaban itu akan menjadi persoalan dan permasalahan yang serius. Banyak orang hanya menerka-nerka saja tanpa dasar yang kuat sesuai dengan kebenaran Allah sendiri.
      Jawabannya hasil dari pemikiran yang cupet justru akan membuat kesalah fatal bagi mereka yang mendengarnya. Tidaklah salah ketika seseorang mengatakan bahwa bayi itu mati berada di sorga, kalau jawabannya memiliki dasar yang tepat! Namun bagi orang timur, akan sangat riskan jika menjawab bayi yang mati masuk neraka, sebab akan menerima amukan dari orang tuanya. Jadi bila ditemukan memang tidak mengerti maka jawablah jujur tidak mengerti!  Anggapan bayi yang meninggal menjadi malaikat-malaikat yang melayani Allah adalah jawaban yang menghibur tetapi tidak sesuai dengan Alkitab.
       Memang Yesus mengatakan bahwa anak kecil didampingi oleh malaikat Tuhan. Matius 18:10 mengingatkan : “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil  ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga  yang selalu memandang wajah BapaKu yang di sorga.”   Yesus tidak sedang mengajarkan anak kecil yang meninggal menjadi malaikat yang terbang ke sana-ke mari! Dalam benak anak kecil tidak pernah terbesit apa itu malaikat dan tidak sedikitpun terlintas bahwa mereka melayani Tuhan. Bagaimana bayi itu melayani Allah, selama ia hidup di bumi saja tidak tahu melayani.
        Maka setelah kematianpun tidak akan mungkin mereka dikatakan melayani Tuhan! Sebab kemampuan dalam kekekalan hanya bisa diperoleh oleh roh manusia selama ada di bumi ini.  Bayi yang meninggal tidak memiliki kemampuan sedikitpun melayani Allah. Kecuali setelah kematian ada semacam sekolah melayani Allah dalam kekekalan jika demikian urusannya menjadi berbeda. Namun dapat dipastikan bahwa bayi yang meninggal menjadi malaikat bukanlah jawaban Alkitabiah melainkan rekayasa hiburan dari manusia!
       Orang mengatakan bahwa bayi meninggal pasti masuk sorga, karena kasih Allah kepada semua manusia (Yoh. 3:16). Allah yang penuh kasih tidak akan membiarkan anak kecil mati masuk neraka! KasihNya yang luar biasa kepada semua orang di dunia akan menghantarkan bayi yang mati berada dalam pangkuan BapaNya!
        Jawaban cantik ini memang masuk akal namun tidak Alkitabiah, sebab kasih Allah saja tidak cukup membuat seseorang memiliki sorga. Harus ada tanggapan dan reaksi dari orang yang akan menerima anugerahnya (Efe. 2:8). Bagaimana bayi bisa memiliki iman kepada Juruselamat dunia? Tentu tidak akan mampu! 
       Memang kasihNya sanggup memberikan sorga kepada siapapun juga, namun sorga itu hanya milik orang yang percaya kepadaNya (Yoh. 1:12). Sejak kapan bayi mungil mengambil keputusan untuk percaya kepada Allah? Jangankan menerima Dia, mendengar perkataan orang tua saja belum tahu apa-apa, apatah lagi bicara soal iman dan keselamatan maka tidak akan sanggup sedikitpun!
       Orang mengatakan bayi masuk sorga karena tidak memiliki dosa, masih suci dan tidak bercela! Jawaban ini paling umum beredar di masyarakat luas. Namun benarkan bayi tidak berdosa? Alkitab menyatakan bahwa semua manusia telah berdosa (Rom. 3;23;6:23). Bayi manapun masuk dalam kategori manusia sehingga ia tidak luput dari dosa, ia membawa dosa alami atau disebut sebagai natur dosa.
        Ia menggendong dosa warisan dari nenek moyangnya, Adam dan Hawa. Belum lagi mereka yang terlanjur lahir dalam keluarga yang tidak mengenal Tuhan dan hidup dalam kejahatan. Padahal Tuhan sendiri akan membalaskan kejahatan tersebut sampai keturunan ke empat, Keluaran 20:5 “... TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yangmembalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ke tiga dan ke empat dari orang-orang yang  membenci Aku....”   Alangkah malangnya bayi yang lahir dari orang tua yang membenci Allah, karena Allah akan tetap menjalankan Firmannya tidak peduli itu bayi mungil sekalipun. Nampaknya kejam tetapi kebenaran tetaplah menjadi kebenaran tidak menyangkut perasaan dan logika manusia. Hukum Allah akan diterapkan di sepanjang abad!

Jawaban Alkitabiah


      Perlu dipahami bahwa soal sorga dan neraka adalah otoritas Allah sendiri. Tidak boleh ada satupun yang berkata bahwa sorga atau neraka berangkat dari kemampuannya bersilat lidah dan smart  dalam berteologia saja! Kebenaran yang dipaparkan kepada jemaat harus bersumber dari Alkitab tanpa embel-embel yang lainnya.
      Agama lain bila mendengar bahwa orang Kristen pasti masuk sorga, mereka merasa geli. Mereka pikir orang-orang Kristen berani mendahului Tuhan. Namun orang Kristen meyakini hal itu karena Alkitab telah memberitahukan akan jaminan yang pasti tanpa keraguan sedikitpun bahwa orang percaya memiliki kehidupan yang kekal bukanlah kematian kekal (Yoh. 3:16; 1 Yoh. 5:13, Rom. 8:1)
       Harus dikatakan dengan jujur bahwa secara tersurat Alkitab bungkam tentang keselamatan bayi di balik kematiannya. Namun secara tersirat bertebaran berbagai macam ayat yang merujuk akan keselamatan di balik kematian bayi ini. Keselamatan diperuntukkan bagi mereka yang tahu dan bisa memberikan reaksi percaya atau beriman kepada Kristus sebagai juru selamatNya. Namun bayi tidak memiliki kemampuan apapun untuk hal tersebut.
       Biasanya dilingkungan gereja-gereja, bayi diserahkan kepada Tuhan untuk menjadi milik Allah seperti Yesus pada waktu kecilnya diserahkan oleh orang tuanya ke Bait Allah (Luk 2:22). Betapa pentingnya menyerahkan bayi mungil kepada Tuhan sebab apabila terjadi segala sesuatu yang tidak diinginkan maka kepastian soal sorga  menjadi jelas karena sikap dari kedua orang tuanya yang telah mengambil tindakan iman dengan menyerahkan kepada Tuhan!
       Namun bagaimana kalau bayi itu belum pernah diserahkan kepada Tuhan? Hal ini adalah kecerobohan dari kedua orang tuanya! Namun penyerahan kepada Tuhan tidak harus divonis hanya pada waktu dialtar Tuhan.  Sejak terjadi pembuahan dan mereka menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan akan kehamilannya itu perbuatan yang divonis afdol oleh Tuhan.. Sehingga Tuhan sendiri akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap janin yang tidak berdaya tersebut. Penyerahan janin sebagai bayi yang mungil ini menunjukkan iman orang tuanya kepada Tuhan terhadap bayinya. Perlu dipahami bahwa bayi merupakan darah daging dari orang tuanya. Sehingga bayi tersebut menjadi milik Tuhan oleh iman orang tuanya!
        Ketika Daud berusaha keras menyelamatkan bayinya hasil dari hubungan gelapnya dengan Batsyeba, akhirnya tidak tertolong juga, bayinya mati sebagai hukuman yang diberikan Allah atas perzinahan yang dilakukan oleh Daud! Kata-kata yang Daud ucapkan merupakan renungan sepanjang abad, 2 Samuel 12:23 menyatakan, “Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi  kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku.”
         Secara tersirat bayi yang mati dari orang tua yang menyerahkannya kepada Tuhan, masuk sorga. Allah menghukum orang dalam tindakannya yang mendatangkan dosa. Bayi tidak memiliki dosa moral, atau dosa dalam tindakannya. Kalau ia besar pasti ia bisa bertingkah laku seperti orang-orang pada umumnya, namun oleh kebijaksanaan Tuhan bayi tersebut telah dipanggil sesuai dengan kehendakNya!
          Sorga yang dimiliki seorang anak kecil bukan  karena ia suci sebab telah dijelaskan di atas bahwa semua orang telah berdosa! Namun dosa yang dibawa oleh sang anak dalam ketidakberdayaannya tidak mengakibatkan hal yang salah bila ia tidak sengaja membawanya! Tuhan model apakah yang memasukkan bayi yang tidak mau dan tidak mampu membawa dosa asal, kemudian memasukkan neraka akan dosa yang tidak diperbuatNya?
         Dosa warisan yang dibawa oleh manusia sejak lahir adalah hasil dari transfer spirit Adam dan Hawa yang menular kepada siapapun, yaitu bagi mereka yang disebut manusia, entah bayi maupun orang dewasa! Namun darah dan pengampunan Yesus di atas salib juga berlaku bagi siapapun juga, entah mereka sudah dewasa ataupun bayi!
         Sebenarnya prinsip ini sama, yaitu baik kuasa dosa warisan dan kuasa pengampunan itu berlaku bagi semua orang. Mereka yang dalam kategori bayi sama-sama menerimanya tanpa syarat dari sikap orang tuanya, karena mereka belum mampu mengambil keputusan. Bila orang sudah dewasa maka orang bisa menjadi jahat karena berulang-ulang kali memberi kesempatan kepada roh jahat membimbingnya untuk melakukan kejahatan. Namun bagi mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus demikian juga mereka berkesempatan berulang-ulang kali untuk melakukan kebajikan, kekudusan dan kesetiaan kepada Tuhan sebab ia membiarkan Roh Allah untuk memimpinnya (Roma 8:14).
      Selain itu perlu dipahami bahwa keselamatan di dalam Kristus selalu berangkat dari Anugerah Tuhan! Bila seseorang didapati memiliki kemampuan untuk menerima atau menolak maka ia sedang diperhadapkan dengan suatu kesempatan besar dalam kekekalan entah sorga atau neraka! Keputusan yang diambil di bumi ini menentukan selama kekekalan nanti!
     Namun bayi yang tidak memiliki kemampuan tersebut harus berangkat dari anugerah Allah saja tanpa tawar menawar! Kalau Allah mengizinkan kehidupan dan Ia ingin mengambilnya kembali maka Ia akan bertanggung jawab atas segala sesuatunya! Ketika Ia mengambil bayi Ia telah memperhitungkan bahwa bayi itu hanya numpang lewat melalui orang tuanya.
      Adakah sekolah bayi di sorga sehingga ia bisa mengikuti pola kehidupan sorga? Alkitab bungkam untuk itu! Allah jauh lebih bijaksana dalam memanggil seseorang tepat pada waktunya. Bila jiwa bayi itu dikehendaki Tuhan pasti Dia punya alasan. Ia tidak sedang bercanda dengan orang tua sang bayi dengan memanggil bayinya  hanya untuk urusan bercanda!
      Tuhan melihat orang-tertentu tidak diijinkan Tuhan menderita dihari-hari kehidupan selanjutnya. Ia tahu bahwa ada begitu banyak hal yang berat yang harus dihadapi, Ia tidak rela sehingga pada saat bayi dia sudah dipanggil dan  diberi kesempatan langsung menikmati sorga tanpa harus berjuang menyangkal diri, mempertahankan nyawa demi penginjilan dan masih segudang perjuangan lagi!   Bila diijinkan berimaginer maka Bayi-bayi itu menjadi sukacita di sorga! Tua-tua di sorga merasa bangga punya momongan kecil-kecil lagi dan bagi mereka bayi-bayi itu menjadi cucu kesayangan mereka! Dilatih kembali menjadi anak-anak yang manis untuk menyembah Bapa dan Anak serta Roh Kudus!
 

Terakhir Diperbaharui (Jumat, 16 November 2007 15:37)