Levelnya Allah tidak akan mau berurusan dengan manusia secara massal. Kalaupun mau berhubungan dengan manusia, Ia memakai perantara satu orang untuk seluruh bangsa atau dunia!
Beragam kepercayaan yang ada sekarang ini, sering menimbulkan benturan-benturan dikarenakan sindiran yang berbau cemoohan dan pelecehan terhadap agama lain. Nuansanya menjadi tidak teratur, sementara aroma kehidupan menjadi rancu gara-gara persoalan yang tidak perlu diperdebatkan! Kalau mereka mau dengan santun bertutur dengan pikiran sebening kaca, tentu akan memperoleh jawaban sejernih kristal.
Orang sering kali berucap, “Mengapa sih perlu pengantara untuk bertemu dengan Allah? Bukannya langsung saja juga bisa?” demikian pertanyaan singkatnya, “Allah tidak butuh pengantara,” katanya lebih lanjut! Mereka berpikir singkat, padat, tetapi ngawur tanpa pengertian yang benar!
Harus diakui pertanyaan tersebut sederhana namun memerlukan jawaban teologis yang cantik supaya dapat dimengerti,dan dipahami. Memang kalau orang tidak tahu kebenaran minimal dua agama yang berbeda, menjadikan seseorang cupet, dangkal dan fanatik yang berlebihan.
Tanpa pencerahan dari Roh Kudus untuk dapat tanggap terhadap kebenaran tersebut, kemungkinannya sangat kecil, bisa-bisa roh pemberontakan merasuk di dalamnya! Sebab masing-masing kepercayaan sudah menggendong segunung kebenaran agamanya yang kolot tanpa mau berpikir soal kebenaran dari Allah yang hidup. Kebenaran yang diperoleh hanya merupakan warisan kuno yang mengkarat dalam benak yang ditutupi oleh ilah zaman ini! Setiap orang beragama harus sepakat untuk tidak sepakat dalam beberapa doktrin kunci sebab kebenaran adalah konsumsi hati yang kedalamannya tanpa ukuran, luasnya tanpa jangkauan.
Kebenaran bukan makanan pikiran dengan seribu satu dalih yang perlu dipertahankan, tanpa peduli kata orang, dan kalau emosi sudah bicara maka akal sehatpun hilang. Merupakan hal yang benar bahwa manusia perlu langsung datang kepada Tuhan tanpa embel-embel nabi, pastur maupun pendeta serta sederetan santo dan santa! Itu bisa terjadi kalau manusia itu benar dan punya level seperti Adam dan Hawa pertama yang belum jatuh dalam dosa!
Kalau manusia tidak memikul kenajisannya dan terjebak dalam kubangan pemberontakannya maka tidak dibutuhkan kendaraan berupa nabi, rasul atau siapapun dalam menjumpai diriNya. Allah tidak menyembunyikan dirinya dengan manusia ketika manusia jernih tanpa noda, tetapi ia memalingkan muka dan menjauh ketika manusia menjadi kelam akibat memakan buah pohon pengetahuan baik dan jahat itu!
Kedudukan ciptaan dan Pencipta tidak bisa dipertemukan karena memiliki spesifikasi yang berbeda. Keberadaan Allah identik dengan api! (Kel. 24:17- Ibr. 12:29) Seme-tara manusia dari tanah liat (Kej 2:7). Allah yang penuh kemuliaan dan manusia penuh cacat dan cela, di mana saja dan kapan saja tidak akan pernah ‘nyambung!
Alkitab membongkar sesuatu secara akurat tanpa ditutup-tutupi! Jika Allah sedang bermusuhan dengan manusia, murkanya nyata dan sama sekali tidak ramah, sebab Tuhan sedang pasang muka perang terhadap manusia! Nahum 1:2 menyatakan TUHAN itu Allah yang cemburu dan pembalas, TUHAN itu pembalas dan penuh kehangatan amarah. TUHAN itu pembalas kepada para lawanNya dan pendendam kepada para musuh-Nya!
Levelnya Allah tidak akan mau berurusan dengan manusia secara massal. Kalaupun mau berhubungan dengan manusia, Ia memakai perantara satu orang untuk seluruh bangsa atau dunia! Melalui satu orang tersebut maka perintah, kehendak dan berkat atau murka dinyatakan! Seseorang harus diangkat Tuhan terlebih dahulu baru menjadi pengantara atau jubirnya Tuhan.
Awal Keterpisahan
Jika dilihat dari sejarah penciptaan Sang Pencipta memiliki conecting dengan makluk ciptaan tanpa dibatasi oleh apapun dan siapapun. Allah menyeting manusia mirip seperti diriNya sendiri. Alkitab menyatakan Imagodei segambar dan serupa Allah (Kej. 1:26). Pemazmur dengan indah menuliskan puisinya:
Jika aku melihat langitMu, buatan jariMu,
Bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:
Apakah manusia,
Sehingga Engkau mengingatnya?
Apakah anak manusia,
sehingga Engkau mengindahkannya?
Namun Engkau
Telah membuatnya
Hampir sama seperti Allah,
Dan telah memahkotainya
Dengan kemuliaan dan hormat.
(Maz 8:4-6)
Kalau boleh beranganangan kala pertama penciptaan, manusia bagaikan anak kembar dengan Penciptanya, yang dengan mudahnya bepergian berdua, makan bersama dan bercanda ria. Jarak antara Pencipta dan makhluk ciptaanNya tidak jauh, sorga dan bumi melekat menjadi satu, masing-masing bisa meng-ucapkan selamat pagi, sore atau malam! Kalau mereka ingin berintim ria tidak seperti kucing yang meski harus berantem lebih dahulu! Kein-timannya setiap waktu, kapanpun dimanapun!
Berbeda dengan sekarang, jika Allah ingin berintim ria dengan manusia, Ia terlebih dahulu bekerja keras mengirimkan masalah, kesulitan dan huru-hara, baru ditemukan manusia mau mendekat dan menjalin hubungan intim dengan penciptaNya, itupun sedikit, tidak semua! Bahkan ada yang malah jengkel, gondok dan menyalahkan Tuhan, murtad dan lari terbirit-birit.
Kenangan mesra awal mula segera berubah, rusak total, berantakan, gambar cantik yang ditaruh di dalam diri manusia tercabik-cabik, Aura originalnya Allah telah pudar, inner beauty yang ada di dalam diri ma-nusia pupus tak berbekas! Modal manusia untuk berhubungan dengan Tuhan habis total, kendaraan satu-satunya yang Allah berikan bukan saja mogok tetapi terbakar habis, meledak bak bom ala para teroris! Bagaimana mungkin bisa dipergunakan?
Namun segera sesudah kerusakan totalnya Allah menjamin sekali kelak akan ada ‘kendaraan’ yang menghubungkanNya kembali, kendaraan itu bernama Yesus (Kejadian 3:15 janji keselamatan). Kendaraan yang dijanjikan tidak langsung diberikan, sebab harus dirakit lebih dahulu melalui nubuatan, janji dan gambaran-gambaran sehingga sekali waktu kelak jika ‘mesin penghubung’ itu sudah ada, maka manusia tidak kaget dalam menggunakannya, dan pe-numpangnya tidak mabuk hingga selamat sampai di tempat kediaman Allah kembali.
Selama menunggu kendaraan tersebut, yaitu datangnya seorang pengantara yang menghubungkan kembali manusia, maka manusia terus bergejolak berlomba-lomba memainkan peranan sebagai pendosa! Mesin pemberontakannya menghasilkan produk ketakutan melihat kehadiran Allah sebagai kekasihNya (Kej. 3:8). Kenikmatan dosa yang menggelayuti Adam menghasilkan kandungan kebencian dalam diri Kain dan melahirkan pembunuhan Habil.
Segalanya menjadi berubah, Allah bukan menjauh, conectingnya terputus karena ulah manusia yang memiliki roh penolakan terhadap DiriNya. Ia berusaha mendekat tetapi manusia menolakNya (Yoh. 1:11). Sejak kejatuhannya, iblis mendominir manusia tanpa batas, dan membujuk manusia terus berada dalam rel pemberontakan dan iblis mendis-tribusikan gerbang dosa yang memuat bahan bakar yang mudah membakar tali pengikat antara Allah dan manusia (Yes. 59:1-2). Iblis tahu dengan pasti yang namanya ‘kue’ kekudusan tidak akan pernah diracik dari tepung dosa yang ke luar dari oven kenajisan!
Allah Menggunakan Perantara
Berulangkali Allah jengkel melihat tingkah polah ciptaanNya. fluktuasi murkaNya meningkat tajam diambang batas. Rasanya Ia ingin menghapus manusia dari bumi dan membangun generasi yang baru. Kalau saja matematikanya Tuhan dalam hitungan murkaNya maka yang terjadi hanya pemusnahan dan penghancuran secara massal manusia dari muka bumi.
Manusia sebagai makluk ciptaan sudah out of date dihadapan Tuhan, kadaluarsa dalam menerima kasih dan ketinggalan kereta dalam anugerahNya! Tindakan Allah sesudah manusia memberontak tidak butuh begitu banyak fasal dalam Alkitab, dalam satu pasal Allah sudah berubah, mengejar manusia dan ingin menjalin hubungan dengan manis. Allah tidak datang dengan murka dan angin yang menggelegar tetapi Alkitab berkisah, Ia datang dengan angin yang sejuk (Kej 3:8).
Itupun dalam tahapan berjalan-jalan, santai dan familier sekali bukan seperti sedang berpratoli seperti tim Buser mengejar penjahat! Ketika Kain membunuh adiknya dan darah habil berteriak keatas Tuhan langsung turun menemui Kain dengan penyelamatan tanda di dahi supaya ia tidak dibunuh oleh orang (Kej. 4:15). Komunikasi yang dibangun Allah pada awal ciptaan tidak membutuhkan pengantara karena manusia cuma beberapa saja!
Selanjutnya Allah menggunakan pengantara dalam berbicara kepada masyarakat yang bobrok pada pada zaman purba! Kejadian 6 mencatat ketika Tuhan ingin memusnahkan manusia karena kejahatannya sudah di ambang batas, maka Tuhan memilih Nuh yang dianggap ber-kenan dimata Tuhan!
Yesus Kristus Perantara Tunggal
Allah harus menggunakan perantara selevel diriNya dan tidak ada siapapun selain pribadi yang layak untuk itu yakni Yesus Kristus dari Nazaret, spesifikasi yang ada di dalam diri Yesus sangat memenuhi syarat sebagai seorang perantara (intercessor), Sebab Ia berasal dari sorga dan akan membawa manusia kembali ke habitat awalnya, yakni sorga!
Perantara dalam bahasa Yunani-nya adalah messites yang erat hubungannya dengan istilah mesos yang berarti tengah. Messites berarti penengah yang menyatukan dua pihak atau sebagai penyalur hubungan dua sisi. Ayub pernah mengeluh tidak adanya perantara antara dirinya dengan Tuhan!
Dalam 1 Timotius 2:5 dituliskan, “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus!” Allah telah memberikan standar, bahwa diriNya sendiri tidak akan pernah mau ditemui oleh siapapun selain via Yesus Kristus yang merupakan standarnya Sorga! (Yoh. 14:6; Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”).
Yesus Kristus dengan sangat indah memberikan gambaran bahwa Allah tidak puas jika hanya mengirimkan para hamba Tuhan, baik nabi, rasul dan imam, sebab kinerja mereka bukan saja tidak sempurna dengan bumbu kelemahan manusiawi, para utusanNya tidak memenuhi standar yang sempurna sebagai pengantara antara diriNya dan ciptaanNya di samping itu mereka dibantai oleh orang-orang yang menamakan diri ahli agama (Matius 23:34)
Yesus berkisah tentang kegagalan utusanNya sehingga Allah harus mengi-rimkan anakNya yang tunggal melalui gambaran tentang pelayan-pelayan tukang anggur (Mat. 21:33-41). Kehadiran Allah yang berinkarnasi di dalam tubuh manusia menutup seluruh gerak kerja nabi manapun dan siapapun yang akan mengem-balikan manusia ke-pada Allah. Sebab Allah sendiri telah datang, untuk apa dibutuhkan orang lain manapun (Ibr. 1:1-4).
Dalam gelanggang pertandingan maka dibutuhkan seorang perantara hanya saja istilahnya wasit! Tan-pa wasit pertandingan berskala internasional tidak akan dapat terlaksana, sekalipun terlak-sana maka akan dianggap suatu permainan bukan kompetisi yang serius! Dalam Perjanjian Lama kata perantara ini mirip dengan kata ‘wasit’, Ayub mengeluh bahwa tidak ada ‘wasit’ antara dirinya dengan Tuhan. Ayub 9:33 menyatakan “Tidak ada wasit (daysman) di antara kami, yang dapat memegang kami berdua! Wasitlah yang memegang kendali permainan dan hasil pertandingan!
Perannya sangat penting dan tidak boleh dianggap sepele. Demikianlah keberadaan Yesus Kristus di tengah-tengah umatNya, Ia berperang aktif dalam pertandingan hidup ini! Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka (Ibr. 7:25).
Seorang Pengantara bukan hanya bertugas menyatukan dua kubu yang berbeda tetapi juga menyam-paikan pesan, mengatur segala sesuatu yang kurang dan membe-nahinya (Ibr. 9:15). Jika seorang Presiden berkunjung ke negara lain maka ia sedang mewakili seluruh bangsa untuk menyampaikan isi hatinya, dan inilah gambaran dari Tuhan kita Yesus Kristus.
Memang Allah tidak membu-tuhkan seorang pengantara tetapi manusia yang berdosa sesungguhnya perlu perantara untuk menjumpai Allah yang sejati, tanpa perantara itu semuanya sia-sia saja.
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|
Terakhir Diperbaharui (Minggu, 14 Oktober 2007 21:46)